Pemerintah juga mengumumkan bahwa mulai 1 Juni 2026, layanan Trans Batam direncanakan mulai menjangkau Bandara Hang Nadim, sehingga memperkuat integrasi moda transportasi darat, laut, dan udara.
Tak hanya mendukung mobilitas masyarakat, jaringan baru ini juga diarahkan untuk memperkuat akses menuju kawasan pendidikan, pusat ekonomi baru (New City), hingga kawasan penyangga melalui angkutan lingkungan.
Secara keseluruhan, peluncuran kali ini merupakan pengembangan tahap ketiga armada Trans Batam yang kini telah mencapai sekitar 52 unit operasional.
Pemko Batam menargetkan peningkatan jumlah armada dapat memangkas waktu tunggu penumpang secara signifikan.
Dengan frekuensi perjalanan yang lebih rapat, masyarakat diharapkan tidak lagi menunggu terlalu lama di halte dan lebih terdorong meninggalkan penggunaan kendaraan pribadi.
Target layanan yang ingin dicapai adalah waktu tunggu di bawah 10 menit pada sejumlah koridor utama.
Langkah ini dinilai penting untuk mendukung Batam sebagai kota modern yang memiliki sistem transportasi publik yang efisien dan mudah diakses.
Pemerintah juga mengajak masyarakat untuk menjaga fasilitas publik, termasuk bus dan halte, agar terhindar dari aksi vandalisme sehingga umur layanan dapat lebih panjang.
Dalam peluncuran tersebut, Pemerintah Kota Batam juga menggandeng Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau untuk menghadirkan inovasi pembayaran digital melalui QRIS TAP.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto, menjelaskan bahwa sistem ini memungkinkan pengguna cukup mendekatkan perangkat ke alat pembayaran tanpa perlu lagi melakukan pemindaian kode QR secara manual.
Menurutnya, inovasi tersebut merupakan bagian dari penguatan ekosistem transaksi digital di Batam agar sejajar dengan kota-kota besar lain di Indonesia.
Implementasi QRIS TAP akan dilakukan secara bertahap menyesuaikan kesiapan perangkat di armada dan fasilitas pendukung.
Bank Indonesia juga menyebut sebelumnya implementasi pembayaran QRIS telah diterapkan di sejumlah titik layanan publik dan akan terus diperluas.
Untuk mendukung program ini, nilai investasi layanan disebut mencapai sekitar Rp47 miliar.
Anggaran tersebut tidak hanya mencakup armada bus, tetapi juga pembangunan dan pembenahan halte, sistem pendukung, perangkat teknologi, hingga infrastruktur layanan transportasi berbasis digital.
Dengan integrasi transportasi dan pembayaran digital tersebut, Pemko Batam berharap penggunaan angkutan umum semakin meningkat dan mampu menjadi penggerak produktivitas ekonomi daerah. (Iman Suryanto)
