KABAREKONOMI.CO.ID, BATAM – Bank Indonesia menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas ekonomi Kepulauan Riau (Kepri) di tengah tren pertumbuhan yang tetap solid.
Hal tersebut disampaikan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Ardhienus, di sela-sela peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2025, yang digelar pada Rabu (28/1/2026) di Lantai 3 Gedung Bank Indonesia Perwakilan Kepri.
Ardhienus menjelaskan, perekonomian nasional maupun daerah terus menunjukkan kinerja yang positif. Pertumbuhan ekonomi masih berada pada rentang yang sehat, dengan proyeksi di kisaran 2,5 persen, seiring dengan sinergi kuat antara kebijakan moneter Bank Indonesia, kebijakan fiskal pemerintah, serta dukungan kebijakan sektor lainnya.
“Secara teori, ketika pertumbuhan ekonomi tinggi, biasanya akan diikuti oleh tekanan inflasi. Namun yang terpenting adalah bagaimana inflasi itu tetap bisa kita kendalikan,” ujar Ardhienus.
Ia mengungkapkan, pada tahun 2025, indeks harga konsumen secara nasional tercatat mengalami inflasi sebesar 3,47 persen. Angka tersebut dinilai masih berada dalam batas yang terkendali dan mencerminkan efektivitas kebijakan pengendalian inflasi yang dijalankan secara konsisten.
“Walaupun inflasi sudah mendekati angka 4,5 persen, kita masih mampu menjaganya dalam kisaran sasaran, yakni sekitar 2,5 persen. Ini menunjukkan koordinasi kebijakan berjalan dengan baik,” jelasnya.
Menurut Ardhienus, keberhasilan menjaga inflasi tidak terlepas dari implementasi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi yang dijalankan secara berkelanjutan di daerah, termasuk di Kepulauan Riau. Strategi pengendalian inflasi tersebut dilaksanakan melalui pendekatan 4K, yakni keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, ketersediaan pasokan, serta komunikasi yang efektif.
“Upaya ini diperkuat dengan sinergi yang solid bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), sehingga respons terhadap dinamika harga di lapangan bisa dilakukan secara cepat dan tepat,” katanya.
Selain inflasi, Ardhienus juga menyoroti kinerja sektor keuangan di Kepulauan Riau yang tetap menunjukkan tren positif. Pertumbuhan kredit perbankan di Kepri tercatat masih cukup tinggi dibandingkan dengan rata-rata nasional, mencerminkan aktivitas ekonomi yang terus bergerak dan kepercayaan pelaku usaha yang terjaga.
Data Bank Indonesia mencatat, pertumbuhan kredit di Kepulauan Riau mencapai 25,92 persen, sementara pertumbuhan aset perbankan berada di angka 12,92 persen, dan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh sebesar 13,22 persen.
“Kami mengapresiasi peran perbankan dan seluruh pelaku industri jasa keuangan yang terus mendukung pembiayaan ekonomi daerah. Pertumbuhan kredit yang tinggi ini menjadi salah satu motor penggerak ekonomi Kepulauan Riau,” ujar Ardhienus.
Di tengah pertumbuhan tersebut, stabilitas sistem keuangan dinilai tetap terjaga dengan baik. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) yang masih berada pada level rendah, yakni sekitar 2,39 persen.
“Walaupun kredit tumbuh tinggi, kualitas kredit tetap terjaga. NPL yang berada di kisaran 2,39 persen menunjukkan bahwa risiko perbankan masih terkendali dan stabilitas sistem keuangan di Kepulauan Riau semakin kuat,” jelasnya.
Ke depan, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya akan terus memperkuat koordinasi kebijakan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, mengendalikan inflasi, serta memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.
“Dengan sinergi yang terus diperkuat, kami optimistis perekonomian Kepulauan Riau akan tetap tumbuh berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat,” tutup Ardhienus. (Iman Suryanto )










