KABAREKONOMI.CO.ID, BATAM – Penerapan fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar pada kapal rute internasional Batam–Singapura–Malaysia pulang-pergi (PP) terus menuai keluhan masyarakat. Setelah sebelumnya disuarakan oleh warga, keluhan serupa kini datang dari pekerja komuter, pelaku usaha kecil, hingga mahasiswa yang rutin bepergian lintas negara.
Biaya tambahan yang dinilai semakin tinggi membuat masyarakat harus menambah pos pengeluaran transportasi setiap bulan. Kondisi ini dinilai memberi tekanan baru pada ekonomi rumah tangga, terutama bagi mereka yang mobilitasnya bergantung pada jalur laut internasional.
Salah satu warga Batam, Roma, sebelumnya mengungkapkan biaya fuel surcharge membuat pengeluaran keluarga melonjak setiap bulan.
“Sangat memberatkan. Suamiku pulang bayar 6 dolar Singapura . Balik ke sana lagi Rp65 ribu. Dan itu tidak ditanggung pihak perusahaan. Kalau dalam sebulan bolak-balik seperti itu, bisa tekor,” keluhnya saat dihubungi awak media pada Jumat (27/3/2026) pagi.
Keluhan serupa disampaikan warga Batam lain, Rudi, yang bekerja di kawasan industri Johor Bahru. Ia mengaku biaya tambahan tersebut menggerus sebagian besar pendapatannya.
“Setiap bulan saya harus bolak-balik minimal empat kali. Sekarang biaya tambahan bahan bakar makin terasa. Gaji memang dari luar negeri, tapi biaya transportnya juga makin besar,” ujarnya.
Menurut Rudi, biaya yang terus bertambah membuat banyak pekerja harus mengurangi frekuensi pulang ke Batam untuk menghemat pengeluaran.









