Pelemahan Rupiah Tekan Ekonomi Nasional, Namun Menjadi Berkah bagi Batam

Ketua APINDO Kota Batam Dr. Rafki Rasyid, SE. MM
Ketua APINDO Kota Batam Dr. Rafki Rasyid, SE. MM

KABAREKONOMI.CO.ID, BATAM – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap berbagai mata uang asing belakangan ini memunculkan beragam dampak terhadap perekonomian nasional.

Di satu sisi, kondisi tersebut menjadi sinyal berkurangnya kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan Indonesia. Namun di sisi lain, bagi daerah yang berorientasi ekspor seperti Batam, depresiasi rupiah justru menghadirkan peluang pertumbuhan ekonomi yang cukup besar.

Bacaan Lainnya

Ketua APINDO Kota Batam, Rafky Rasyid saat menjawab pertanyaan KE Groups pada Jumat (5/6/2026) pagi, menilai melemahnya nilai rupiah terhadap mata uang asing bukan hanya terhadap dolar Amerika Serikat, tetapi juga sejumlah mata uang utama dunia lainnya, menunjukkan adanya arus keluar modal asing dari Indonesia.

Menurutnya, banyak investor asing yang saat ini menarik dana portofolio mereka dari pasar keuangan Indonesia. Kondisi tersebut menyebabkan tekanan terhadap rupiah semakin besar karena meningkatnya aktivitas penjualan mata uang domestik di pasar.

“Depresiasi rupiah menunjukkan bahwa kepercayaan investor asing terhadap perekonomian Indonesia sedang mengalami penurunan. Banyak modal asing dalam bentuk investasi portofolio keluar dari Indonesia sehingga tekanan terhadap kurs rupiah meningkat,” ujarnya.

Rafky menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah pada akhirnya akan berdampak terhadap kenaikan harga barang dan jasa, terutama yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor. Kondisi ini berpotensi memicu inflasi yang lebih tinggi.

Ketika inflasi meningkat, daya beli masyarakat akan mengalami tekanan. Rumah tangga cenderung menahan konsumsi karena harga kebutuhan sehari-hari semakin mahal. Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu yang lama, maka pertumbuhan ekonomi nasional berpotensi melambat.

“Ketika daya beli melemah dan masyarakat mengurangi belanja, maka aktivitas ekonomi ikut melambat. Dampaknya akan dirasakan oleh sektor produksi karena permintaan pasar menurun,” katanya.

Lebih lanjut, Rafky menambahkan bahwa dalam jangka panjang kebijakan pengendalian inflasi melalui kenaikan suku bunga juga memiliki konsekuensi terhadap dunia usaha. Tingginya biaya pinjaman dapat mengurangi ekspansi bisnis dan investasi perusahaan yang pada akhirnya berpotensi memicu pengurangan tenaga kerja.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *