KABAREKONOMI.CO.ID, MUMBAI — Bursa efek terbesar di India sekaligus salah satu bursa tertua di dunia, Bombay Stock Exchange (BSE), menyebut ketidakpastian global masih membayangi prospek pasar modal. Kendati memiliki basis demografi terbesar di dunia, BSE masih melihat perlunya peningkatan jumlah investor di pasar saham India.
Direktur Pelaksana dan CEO BSE Sundararaman Ramamurthy mengatakan, gejolak global, termasuk perang Amerika Serikat (AS) dan Iran sejak awal 2026, turut berdampak terhadap pasar modal di berbagai negara.
Meski kondisi eksternal masih rapuh, dia menilai kondisi internal India tetap prospektif. Optimisme BSE yang telah berusia 151 tahun tersebut setidaknya ditopang oleh dua faktor, yakni besarnya demografi India dan pertumbuhan ekonomi yang tetap tinggi.
India memiliki populasi sekitar 1,47 miliar jiwa dan menjadi negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Sementara itu, ekonomi India tumbuh sekitar 7,8% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal II/2026.
Sundararaman juga menyebut upaya negara-negara emerging markets untuk memperkuat kolaborasi, termasuk melalui forum BRICS, turut memberikan kepercayaan kepada pelaku pasar saham.
“Adanya hal positif seperti BRICS, stabilisasi harga minyak, serta kemandirian India telah membantu kami mengatasi ketidakpastian di tengah meningkatnya gejolak global,” ujarnya kepada wartawan di Gedung BSE, Mumbai, Selasa (15/9/2026).
BSE Sensex Melemah 1,04%
Pada penutupan perdagangan yang turut disaksikan wartawan dari 19 negara dalam rangka Familiarization Visit, Selasa (15/9/2026) sore, indeks saham BSE Sensex ditutup melemah 1,04% ke level 74.003,82.
Adapun tingkat return hingga Agustus 2026 tercatat sebesar 5,88% untuk periode tiga tahun, 5,98% untuk lima tahun, dan 10,46% untuk 10 tahun.
Dari sejumlah indeks sektoral di BSE, indeks harga saham perbankan menjadi yang terbesar dengan level 65.199 hingga Agustus 2026. Posisi berikutnya ditempati emiten konsumen sebesar 64.727, otomotif 63.762, baja 41.931, teknologi informasi (IT) 29.718, serta minyak dan gas 25.931.
Dari sisi return, sektor telekomunikasi menjadi yang mencatatkan kinerja tertinggi secara tahun berjalan dengan 15,85% (year-to-date/YtD).
Sebaliknya, meski memiliki indeks terbesar, sektor IT mencatatkan pergerakan return paling terpuruk dengan minus 19,57% secara YtD.











