Dari Energi Surya ke Ekonomi Produktif, PLTS 1 MWp Ubah Semburlaut Batam

KABAREKONOMI.CO.ID, BATAM — Pagi di Pulau Semburlaut, Kelurahan Galang Baru, Kota Batam, Kepulauan Riau, tidak hanya dimulai dengan aktivitas nelayan yang bersiap melaut. Di pulau yang sebagian besar warganya menggantungkan hidup dari laut itu, energi matahari kini mulai menjadi bagian dari denyut ekonomi masyarakat.

Sejak beroperasi pada 17 Agustus 2026, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 1 Megawatt Peak (MWp) di Semburlaut perlahan mengubah cara masyarakat memandang listrik.

Bacaan Lainnya

Energi yang sebelumnya dipandang sebatas kebutuhan dasar kini diarahkan menjadi modal untuk mengembangkan usaha.

PLTS tersebut dikelola melalui Koperasi Kelurahan Merah Putih Galang Baru. Pemerintah menempatkan pembangkit ini bukan sekadar sebagai proyek penyedia listrik, melainkan sebagai percontohan bagaimana energi terbarukan dapat menjadi fondasi ekonomi produktif di wilayah kepulauan.

Deputi Pengembangan Usaha Kementerian Koperasi, Panel Barus, mengatakan PLTS Semburlaut menjadi bagian dari upaya membuktikan bahwa ketersediaan energi dapat mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.

“PLTS 1 Megawatt ini adalah sebuah percontohan atas program besar Bapak Presiden, yaitu PLTS 100 Gigawatt. Kita ingin membuktikan bahwa kehadiran listrik dan energi di suatu wilayah mampu mendorong aktivitas ekonomi dan aktivitas produktif masyarakat.”

Konsep tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai unit usaha koperasi.

Listrik dari PLTS akan menopang operasional pabrik es, cold storage, penyediaan air bersih hingga SPBUN atau stasiun pengisian bahan bakar untuk nelayan.

Pilihan jenis usaha itu tidak datang tanpa alasan. Sekitar 90 persen masyarakat di wilayah tersebut menggantungkan mata pencaharian dari sektor perikanan.

Dengan demikian, energi yang dihasilkan PLTS diarahkan untuk masuk langsung ke rantai ekonomi yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga.

Menjaga Nilai Hasil Tangkapan

Bagi nelayan, persoalan ekonomi tidak selalu berhenti pada kemampuan menangkap ikan. Persoalan berikutnya adalah bagaimana mempertahankan kualitas hasil tangkapan dan memperoleh harga jual yang lebih baik.

Di titik inilah keberadaan pabrik es dan cold storage menjadi penting.

Ketersediaan es memungkinkan nelayan membawa persediaan selama melaut sehingga hasil tangkapan tetap terjaga. Sementara cold storage memberi pilihan kepada nelayan untuk menyimpan ikan sebelum dijual.

Artinya, nelayan tidak selalu berada dalam posisi harus menjual hasil tangkapan sesaat setelah kembali dari laut.

“Cold storage ini penting supaya ikan yang ditangkap bisa awet, bisa dijual sesuai kebutuhan dan waktu yang mereka tentukan, supaya harganya bagus,” kata Panel.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *