Vietnam Bidik Batam-Bintan, Rantai Pasok Halal ASEAN Mulai Disatukan

KABAREKONOMI.CO.ID, BATAM — Peta persaingan ekonomi halal ASEAN mulai memasuki babak baru. Bukan hanya soal siapa yang memiliki pasar Muslim terbesar, tetapi siapa yang mampu menguasai rantai pasok, produksi, logistik, sertifikasi hingga akses pasar halal global.

Di tengah persaingan tersebut, Batam dan Bintan, Kepulauan Riau, mulai dilihat sebagai salah satu titik strategis untuk menghubungkan kekuatan industri Vietnam, pasar Indonesia, infrastruktur Singapura, serta jaringan perdagangan Malaysia.

Bacaan Lainnya

Peluang itu mengemuka dalam Kepri International Business Forum (KIBF) 2026 di Harmoni One Batam, Kota Batam, Rabu (23/9/2026).

Director of Communication Halal Hub Vietnam Joint Stock Company, Nguyen Huy Toan, mengatakan ASEAN sesungguhnya telah memiliki hampir seluruh komponen yang dibutuhkan untuk membangun ekosistem halal berskala global.

“Peluang bagi ASEAN sangat signifikan karena banyak komponen utama dari ekosistem halal global sudah ada di sini,” kata Nguyen.

Ia menggambarkan kekuatan tersebut sebagai sebuah rantai yang saling melengkapi.

Indonesia memiliki populasi Muslim terbesar di dunia sekaligus pasar halal yang besar. Malaysia mempunyai salah satu ekosistem halal yang berkembang. Singapura menawarkan kekuatan finansial, teknologi, logistik dan konektivitas bisnis internasional.

Sementara Vietnam memiliki basis kuat di sektor pertanian, hasil laut, pengolahan makanan, kopi, mete, rempah-rempah hingga manufaktur.

Persoalannya kini adalah bagaimana seluruh kekuatan itu disatukan menjadi rantai nilai halal yang kompetitif. Di titik inilah Batam-Bintan dinilai memiliki posisi strategis.

Nguyen menilai hubungan Vietnam dengan Batam-Bintan dapat menjadi bagian dari arsitektur baru ekonomi halal ASEAN.

Vietnam dan Indonesia sendiri telah memiliki hubungan perdagangan yang cukup besar. Nilai perdagangan bilateral kedua negara pada 2023 mencapai US$13,8 miliar, dengan target meningkat menjadi US$18 miliar pada 2028.

Namun, peluang yang dibidik bukan sekadar meningkatkan nilai ekspor-impor.

Kerja sama dapat diperluas menjadi integrasi rantai nilai. Vietnam memasok produk pertanian, hasil laut, bahan baku dan produk manufaktur, sementara Batam-Bintan dapat memainkan peran dalam manufaktur, investasi, logistik serta akses pasar regional.

“Di luar perdagangan bilateral, ada peluang untuk menciptakan integrasi rantai nilai halal yang lebih dalam,” ujarnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *