KABAREKONOMI.CO.ID, BATAM — Di balik geliat industri, aktivitas perdagangan, pertumbuhan kawasan permukiman hingga arus investasi yang terus bergerak di Kota Batam, terdapat satu infrastruktur yang keberadaannya menentukan keberlanjutan seluruh aktivitas tersebut, yakni waduk.
Bagi Batam, waduk bukan sekadar tampungan air. Infrastruktur tersebut merupakan bagian penting dari fondasi kehidupan kota sekaligus daya dukung ekonomi. Ketika kebutuhan air meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan investasi, menjaga kapasitas tampungan serta debit air baku menjadi pekerjaan yang tidak bisa dilakukan sesaat.
Badan Pengusahaan (BP) Batam pun terus menempatkan ketahanan air sebagai salah satu perhatian penting dalam menjaga keberlangsungan Kota Batam.
Data kondisi waduk per 21 September 2026 menunjukkan terdapat enam waduk yang menjadi bagian dari pemantauan ketahanan air di Pulau Batam, yakni Waduk Sei Harapan, Sei Ladi, Sei Nongsa, Duriangkang, Muka Kuning, dan Tembesi.
Anggota/Deputy Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, mengatakan berdasarkan data tersebut, volume efektif enam waduk jika seluruh angka dalam tabel dijumlahkan mencapai sekitar 107,53 juta meter kubik.
Dari enam waduk tersebut, Duriangkang menjadi penopang utama dengan volume efektif sekitar 78,82 juta meter kubik.
Kemudian Waduk Tembesi tercatat sekitar 14,55 juta meter kubik, Sei Ladi sekitar 7,98 juta meter kubik, Muka Kuning sekitar 5,17 juta meter kubik, dan Sei Harapan sekitar 1,02 juta meter kubik. Sementara itu, data Waduk Sei Nongsa tercatat minus 12.071,91 meter kubik.
“Data tersebut memperlihatkan bahwa Duriangkang masih menjadi penopang utama volume efektif waduk di Pulau Batam, dengan kontribusi terbesar dibanding lima waduk lainnya,” jelas Ariastuty saat diskusi santai dengan KE Groups pada Rabu (23/9/2026) pagi.
Pihaknya juga menegaskan bahwa sngka-angka tersebut menggambarkan betapa strategisnya waduk bagi Batam.
Sebagai kota yang berkembang sebagai kawasan perdagangan dan industri, kebutuhan air tidak berhenti pada konsumsi rumah tangga. Air juga menjadi kebutuhan penting bagi kawasan industri, pusat perdagangan, perkantoran, fasilitas publik, hingga berbagai kegiatan investasi.
“Artinya, pertumbuhan ekonomi Batam secara tidak langsung turut meningkatkan kebutuhan terhadap air baku. Di sinilah tantangan pengelolaan waduk menjadi semakin kompleks,” tegasnya.
Oleh karenanyanya, tambahnya, BP Batam tidak hanya dituntut memastikan air tersedia ketika dibutuhkan, tetapi juga menjaga agar kapasitas tampungan dan debit air baku tetap mampu menopang kebutuhan kota dalam jangka panjang. Pemantauan kondisi waduk menjadi salah satu bagian penting dari upaya tersebut.
Tinggi muka air, volume efektif dan perkembangan kondisi setiap waduk perlu diperhatikan secara berkala. Data tersebut menjadi dasar penting untuk membaca kondisi ketahanan air Batam sekaligus mengantisipasi perubahan kondisi hidrologis yang dapat memengaruhi ketersediaan air baku.
Besarnya kontribusi Waduk Duriangkang dalam volume efektif menunjukkan posisi penting waduk tersebut dalam sistem penyediaan air baku Batam.
Dengan volume efektif sekitar 78,82 juta meter kubik, Duriangkang menjadi bagian terbesar dari keseluruhan volume efektif enam waduk yang tercatat dalam data 21 September 2026.
Namun, ketergantungan terhadap satu waduk dengan kapasitas besar juga memperlihatkan pentingnya menjaga seluruh sistem waduk secara bersamaan. Sei Harapan, Sei Ladi, Sei Nongsa, Muka Kuning, Duriangkang dan Tembesi memiliki peran masing-masing dalam sistem ketahanan air Batam.
“Karena itu, menjaga air baku bukan hanya persoalan mempertahankan volume di satu waduk, melainkan bagaimana keseluruhan sistem dapat terus memberikan daya dukung terhadap kebutuhan kota,” tegasnya lagi.










