Jeda ini sangat krusial untuk mencegah krisis kemanusiaan yang lebih parah dan mengamankan jalur perdagangan internasional yang berdampak pada ekonomi global, termasuk pasokan energi ke negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Kedua, pengaktifan kembali poros dialog internal Umat (Ukhuwah Islamiyah), mendorong Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) bersama tokoh-tokoh ulama dunia untuk bertindak sebagai mediator yang netral. Konflik ini harus diselesaikan dengan semangat persaudaraan Islam, dan bukan dengan intervensi kepentingan asing yang justru memperkeruh suasana.
Ketiga, rekonsiliasi berbasis inklusivitas politik dengan mendorong kelompok Houthi dan Arab Saudi untuk duduk bersama guna menyepakati peta jalan (roadmap) tata kelola keamanan kawasan dengan saling menghormati kedaulatan. Yaman yang stabil dan berdaulat adalah kunci keamanan bagi Arab Saudi, dan begitu pula sebaliknya.
Keempat, jaminan keamanan jalur logistik internasional dengan menyepakati zona bebas konflik di Selat Bab al-Mandeb demi kemaslahatan umat manusia. Terganggunya jalur ini memicu inflasi global yang mencekik masyarakat kecil di berbagai belahan dunia Islam.
Di akhir pernyataannya, Kiai Ma’ruf Amin mengingatkan bahwa Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia selalu siap mendukung setiap upaya perdamaian Arab Saudi dan Houthi-Yaman.
“Perang tidak pernah melahirkan pemenang sejati, dan yang ada hanyalah kehancuran bagi generasi masa depan umat. Mari kita sudahi pertikaian ini dan bangun kembali jembatan dialog yang bermartabat,” tutur Masduki, menyampaikan pesan Kiai Ma’ruf Amin.
