Batam Siap Melaju, Proyek Pipa Gas WNTS–Pemping Dorong Investasi dan Ekonomi Kepulauan

Ia menegaskan aspek keselamatan kerja menjadi prioritas utama. Seluruh sistem akan melalui tahapan pengujian dan commissioning sesuai standar industri migas, demi memastikan operasional berjalan aman dan andal.

Sementara itu, Direktur Manajemen Pembangkitan PT PLN (Persero), Rizal Calvary Marimbo, menilai proyek ini memiliki makna strategis jauh melampaui pembangunan fisik.

Bacaan Lainnya

“Kebutuhan gas untuk pembangkit listrik di Batam terus meningkat seiring pertumbuhan industri. Pipa WNTS–Pemping akan menjadi jalur utama gas Natuna untuk kebutuhan domestik,” ujarnya.

Ia menambahkan, proyek ini sejalan dengan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO), yang menempatkan kepentingan nasional sebagai prioritas utama. PLN menargetkan pembangunan berjalan aman dengan komitmen zero accident hingga proyek rampung.

Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menegaskan pembangunan pipa gas WNTS–Pemping bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan fondasi kemandirian bangsa. Ia mengaitkan proyek ini dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah pada 2 Februari lalu.

“Inti arahan Presiden adalah membangun kemandirian bangsa. Implementasinya adalah ketahanan energi, ketahanan pangan, dan ketahanan nasional,” tegas Amsakar.

Menurutnya, persoalan energi menjadi tantangan nyata bagi wilayah kepulauan. Ia menyebut masih adanya ironi ketika daerah penghasil sumber daya justru mengalami keterbatasan pasokan.

“Sudah 80 tahun merdeka, tetapi masih ada pulau-pulau yang gelap. Ini soal tata kelola energi yang harus kita benahi bersama,” katanya.

Amsakar mengungkapkan, sistem energi Batam saat ini masih mengalami defisit sekitar 25 BBTU, di tengah pertumbuhan kelistrikan yang mencapai 15 persen per tahun. Kondisi tersebut berjalan beriringan dengan lonjakan investasi.

Pada 2025, target investasi Batam sebesar Rp60 triliun berhasil terlampaui dengan realisasi Rp69,3 triliun atau 115,5 persen. Pertumbuhan investasi sebesar 15,5 persen itu, menurut Amsakar, harus ditopang pasokan energi yang andal.

“Tanpa energi yang cukup dan stabil, Batam akan tersendat,” ujarnya.

Ia juga menyoroti keberadaan sembilan proyek data center di Nongsa Digital Park dan Kabil yang membutuhkan pasokan energi besar dan berkelanjutan. Sebagai beranda terdepan Republik Indonesia di wilayah barat, Batam ditargetkan tumbuh 9,5 hingga 10 persen, lebih tinggi dari target nasional 8 persen.

“Target ini tidak mungkin tercapai tanpa jaminan energi. Karena itu, proyek WNTS–Pemping adalah terobosan negara untuk menjaga daya saing Batam dan memperkuat ekonomi nasional,” tegas Amsakar.

Sementara itu, Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyebut pembangunan pipa gas WNTS–Pemping sebagai momentum penting perubahan arah kebijakan energi nasional. Selama ini, gas dari WNTS lebih banyak dialirkan untuk memenuhi kontrak ekspor.

“Dengan kebutuhan domestik yang meningkat, terutama listrik Batam yang tumbuh 15 persen, kebijakan ini harus kita ubah,” ujarnya.

Djoko menegaskan proyek ini menjadi wujud nyata komitmen negara memprioritaskan gas bumi untuk kepentingan dalam negeri. Selain mengalirkan gas dari West Natuna, pipa ini juga membuka peluang masuknya potensi gas lain dari wilayah Natuna di masa depan.

SKK Migas akan mengawal kepastian pasokan gas melalui koordinasi intensif dengan para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), guna memastikan investasi besar ini diimbangi jaminan pasokan jangka panjang.

“Kita ingin industri Batam semakin kuat dan berdaya saing global, dengan energi yang andal dan kompetitif,” kata Djoko.

Dengan dimulainya proyek WNTS–Pemping, Batam memasuki babak baru pembangunan energi. Infrastruktur ini diharapkan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi, penopang investasi, sekaligus simbol keseriusan negara membangun kedaulatan energi dari wilayah perbatasan. (***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *