Pada jenjang SMP, materi diperluas dengan pengenalan penyebab kebakaran, teori Segitiga Api dan tindakan penanganan awal kebakaran. Para siswa juga mendapatkan praktik memadamkan api pada kompor gas menggunakan kain basah.
Sedangkan siswa SMA mendapatkan materi mengenai penyebab kebakaran dan penanggulangan kebakaran tingkat lanjut, termasuk pelatihan tim evakuasi dan praktik menggunakan alat pemadam api ringan (APAR).
Bukan Sekadar Teori
Edukasi yang dilakukan BP Batam tidak berhenti pada penyampaian materi di dalam ruangan. Para siswa juga diperkenalkan secara langsung dengan kendaraan pemadam kebakaran dan berbagai peralatan yang digunakan petugas.
Dalam sejumlah kegiatan, siswa bahkan diberikan kesempatan mengikuti simulasi dan praktik penyemprotan air dengan peralatan pemadam di bawah pendampingan petugas.
Pendekatan praktik tersebut membuat kegiatan edukasi berlangsung lebih interaktif. Anak-anak tidak hanya melihat langsung kendaraan pemadam, tetapi juga memperoleh pengalaman mengenai bagaimana menghadapi kondisi kebakaran.
Laporan kegiatan mencatat, siswa TK dan SD mampu melakukan evakuasi tanpa kepanikan berlebih. Sementara siswa SMP dan SMA berhasil mempraktikkan pemadaman api skala kecil dengan aman.
Ariastuty menambahkan, pembentukan budaya keselamatan tidak cukup dilakukan melalui edukasi sesaat. Lingkungan sekolah perlu memiliki sistem kesiapsiagaan yang terus dilatih.
“Sekolah memiliki peran penting dalam membangun budaya keselamatan. Karena itu, edukasi harus dibarengi dengan simulasi dan pembiasaan sehingga ketika menghadapi kondisi sebenarnya, siswa maupun tenaga pendidik sudah mengetahui jalur evakuasi dan tindakan yang harus dilakukan,” jelasnya lagi.
