Langkah ini mencakup festival kuliner, event budaya dan Promo UMKM.
Setelah kondisi ekonomi dan kunjungan masyarakat membaik, proses penataan fisik akan berjalan bertahap tanpa mengganggu aktivitas usaha.
Survei yang dilakukan BP Batam mengidentifikasi sejumlah permasalahan dasar yang menjadi fokus pembenahan awal, di antaranya, pedestrian rusak dan tidak merata, drainase kurang optimal, Minim zebra cross di titik penyeberangan, jalur pedestrian yang diokupasi kendaraan hingga lampu jalan dan sistem keamanan yang perlu perbaikan.
Temuan ini akan dituangkan dalam rencana aksi terkoordinasi bersama seluruh stakeholder. “Survei ini untuk melihat masalah nyata secara detail. Kita turun bersama agar semua punya pemahaman yang sama. Lalu kita bergerak bersama untuk mewujudkan Nagoya Heritage,” tegas Mouris.
BP Batam menekankan bahwa proyek ini bukan proyek instan, melainkan transformasi kawasan besar yang dilakukan bertahap sepanjang 2026.
“Penataan kita lakukan sambil berjalan. Karena banyak pihak terlibat, ritme pekerjaan dibuat organik dan berlapis. Fase utama saat ini adalah membangun budaya baru bagi masyarakat Batam untuk kembali menjadikan Nagoya sebagai ruang berwisata, berkuliner, dan berbelanja,” jelasnya.
Proyek Nagoya Heritage ini diharapkan menjadi salah satu penggerak utama ekonomi kreatif dan pariwisata Kota Batam pada 2026. Dengan kolaborasi lintas sektor dan pendekatan penataan yang berkelanjutan, BP Batam optimistis kawasan ini akan menjadi destinasi kota yang tertib, modern, dan ramah masyarakat.
BP Batam berkomitmen untuk memastikan seluruh proses berjalan sesuai prinsip kolaborasi, transparansi, dan keberlanjutan. (Iman Suryanto)
