KABAREKONOMI.CO.ID, BINTAN – Upaya pelestarian lingkungan di Kepulauan Riau kini tak lagi sekadar soal menanam pohon. Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Kepulauan Riau mulai menggeser paradigma konservasi menuju pendekatan yang lebih kreatif dan produktif melalui program Planting Tourism, sebuah konsep wisata berbasis ekologi mangrove yang memadukan pengalaman berlibur dengan aksi nyata menjaga alam.
Program ini digadang-gadang menjadi magnet baru sektor pariwisata Kepri, sekaligus memperkuat kesadaran kolektif tentang pentingnya mangrove sebagai benteng pesisir.
Kepala BPDAS Kepri, Haris Sofyan Hendriyanto, menjelaskan bahwa Planting Tourism merupakan hasil kolaborasi lintas sektor antara Kementerian Kehutanan, Dinas Pariwisata, dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Kepulauan Riau.
“Fokus utama kami adalah mengajak wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga ikut berkontribusi langsung melalui aktivitas menanam,” ungkap Haris saat menghadiri kegiatan Penanaman Mangrove yang digelar Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) dalam rangka Hari Pers Nasional di Bintan, Minggu (8/2/2026) pagi.
Saat ini, BPDAS Kepri telah memetakan sedikitnya sembilan lokasi potensial di Kabupaten Bintan sebagai pionir pengembangan wisata menanam. Sejumlah titik bahkan sudah mulai berjalan dengan melibatkan kelompok masyarakat serta pegiat wisata lokal.
Beberapa di antaranya adalah kawasan Pengudang, Gudi Farm, hingga lokasi yang dikelola komunitas Akar Bumi seperti Pandang Tak Jemu.
“Ini semua menjadi fokus pengembangan awal. Kami ingin model ini tumbuh bersama masyarakat setempat,” jelas Haris.
Untuk memperluas jangkauan, BPDAS juga menggandeng biro perjalanan wisata dan perhotelan agar paket “wisata menanam” dapat dipromosikan kepada para pelancong, baik domestik maupun mancanegara.
Menurut Haris, karakteristik Kepulauan Riau sangat unik karena memiliki dua kekuatan utama: arus wisatawan yang stabil dan ekosistem mangrove yang luas.
“Potensi ini harus dimanfaatkan. Kami ingin pembangunan kehutanan bisa berjalan seiring dengan pengembangan pariwisata daerah,” ujarnya.
Lebih jauh, Haris menegaskan bahwa mangrove bukan hanya objek wisata, melainkan benteng terakhir bagi provinsi kepulauan seperti Kepri. Keberadaannya sangat vital untuk menahan abrasi, mencegah erosi, hingga memitigasi dampak bencana seperti tsunami.
Karena itu, BPDAS Kepri juga membuka ruang partisipasi seluas-luasnya bagi masyarakat maupun pengelola lahan yang ingin terlibat dalam penghijauan. Bibit mangrove disediakan secara gratis dan dapat diambil langsung di persemaian BPDAS di Senggarang.
“Harapan kami, mangrove ini dijaga dan dirawat dengan baik. Kalau fungsi ekologinya berjalan optimal, dampak ekonominya akan mengikuti pendapatan masyarakat sekitar pun meningkat,” tutup Haris.
Melalui Planting Tourism, Kepri kini menapaki langkah baru: menjadikan konservasi sebagai pengalaman wisata, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga alam adalah investasi jangka panjang bagi masa depan daerah. (IMAN)
