Bukan Sekadar Tempat Tinggal, Rumah Bahagia Bintan Jadi Ruang Kehangatan bagi Lansia

Para lansia di Rumah Bahagia menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan pada akhirnya juga menyangkut kualitas kehidupan manusia.

Mereka mungkin tidak lagi berada di usia produktif. Namun, kehidupan mereka tetap memiliki nilai dan martabat yang harus dijaga.

Bacaan Lainnya

Karena itu, pelayanan sosial tidak semestinya dipandang sebagai beban pemerintah semata. Ia merupakan bentuk kehadiran negara dalam memastikan tidak ada masyarakat yang merasa ditinggalkan ketika memasuki fase kehidupan yang paling membutuhkan perhatian.

Apresiasi yang disampaikan JAM-Intel Reda Manthovani terhadap Rumah Bahagia juga menjadi catatan bahwa model pelayanan seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain.

Ketika pemerintah mampu menyediakan tempat yang layak, pendampingan, pelayanan, sekaligus perhatian, maka rumah tersebut tidak sekadar menjadi fasilitas sosial.

Ia berubah menjadi sebuah rumah yang memberikan kembali sesuatu yang mungkin telah lama hilang dari kehidupan para penghuninya: rasa diperhatikan dan tidak sendirian.

Kunjungan tersebut turut dihadiri Kepala Kejaksaan Tinggi Kepri Transiswara Adhi, Ketua TP PKK Provinsi Kepri Hj. Dewi Kumalasari, Bupati Bintan Roby Kurniawan, serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Kepri dan Pemerintah Kabupaten Bintan.

Di Rumah Bahagia Bintan, pesan pembangunan itu terasa sederhana tetapi mendalam: ketika seseorang memasuki usia senja, perhatian tidak boleh berhenti hanya karena keluarga telah tiada.

Di situlah negara seharusnya hadir—menjaga, mendampingi, dan memastikan setiap warga negara tetap memiliki tempat yang layak untuk menjalani hari-harinya. (***)

Pos terkait