Data Center Indonesia Tumbuh Agresif, Kapasitas 630 MW dan Pipeline 1,3 GW

Selain listrik, pengembangan data center membutuhkan dukungan jaringan fiber domestik, konektivitas internasional, kabel bawah laut, lahan dan air untuk pendinginan.

Kebutuhan lahan untuk data center berbasis AI bahkan dapat mencapai 10 hektare-30 hektare atau lebih. Namun, lahan tersebut harus ditopang listrik, fiber, akses jalan, perizinan, keamanan serta ruang ekspansi.

Bacaan Lainnya

Dari sisi kelistrikan, Hendra melihat Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 sebagai salah satu fondasi penting. PLN merencanakan tambahan pembangkit sekitar 69,5 GW, jaringan transmisi hampir 47.800 kilometer sirkuit serta tambahan kapasitas gardu induk sekitar 107.950 MVA.

Namun, kebutuhan data center dinilai perlu diintegrasikan sejak awal ke dalam perencanaan sistem kelistrikan. Sebab, pembangunan data center, transmisi dan gardu induk membutuhkan waktu yang tidak singkat.

“Demand forecast industri perlu masuk dalam perencanaan sistem kelistrikan sejak awal,” tutur Hendra.

AI Jadi Katalis

Meski menyimpan risiko oversupply, Heru tetap melihat AI dan cloud sebagai mesin pertumbuhan data center dalam beberapa tahun ke depan.

Hanya saja, pertumbuhan kebutuhan komputasi AI tidak otomatis membuat seluruh kapasitas baru langsung terserap pasar. Perkembangan teknologi yang cepat juga dapat mengubah pola kebutuhan pelanggan.

“AI adalah pendorong kuat, tetapi bukan alasan untuk membangun tanpa perhitungan demand,” kata Heru.

Menurut dia, Indonesia memang berpeluang menjadi hub data center regional. Namun, daya saing tersebut bergantung pada kemampuan menyediakan listrik yang andal, konektivitas, energi hijau serta ekosistem digital yang kompetitif.

Hendra menambahkan, kebutuhan energi hijau juga semakin penting karena pelanggan hyperscaler dan AI global mulai menuntut penggunaan energi terbarukan untuk mendukung target net zero emission.

Ia menyebut lebih dari separuh anggota IDPRO telah memiliki komitmen net zero emission pada 2030.

“Competitiveness Indonesia ke depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyediakan listrik, tetapi juga apakah listrik tersebut reliable, scalable, competitive dan increasingly green,” pungkas Hendra.

SUMBER: KONTAN

Pos terkait