Dibina BI Kepri, Usaha Tekat Laini Rustika Raup Jutaan Rupiah per Karya dan Go Global

KABAREKONOMI.CO.ID, LINGGA – Di sudut Kampung Tembaga, kawasan Masjid Sultan Lingga, denyut ekonomi kreatif tumbuh dari tangan-tangan terampil para perempuan. Di sebuah rumah sederhana, benang-benang berkilau disulam menjadi karya bernilai jutaan rupiah—produk khas Melayu yang dikenal sebagai tekat.

Usaha itu dirintis oleh Laini Rustika, pemilik Rumah Tekat Encik Zulaika, yang juga merupakan UMKM binaan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Sejak diresmikan pada 2021, usaha ini perlahan berkembang, tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Bacaan Lainnya

“Awalnya saya belajar dari teman. Setelah pesanan mulai banyak, saya punya inisiatif membentuk kelompok supaya ibu-ibu rumah tangga bisa punya penghasilan sendiri,” ujar Laini.

Kini, ia membina 12 orang pengrajin yang bekerja secara fleksibel, baik dari rumah masing-masing maupun di lokasi produksi. Sistem ini memungkinkan para anggota tetap menjalankan aktivitas rumah tangga sambil menghasilkan pendapatan tambahan.

Produk utama yang dihasilkan adalah tudung manto dengan motif khas seperti bunga tanjung. Setiap produk membutuhkan waktu pengerjaan sekitar dua minggu karena prosesnya rumit dan menggunakan bahan berkualitas tinggi, termasuk benang impor dan kain dari Singapura.

“Harganya mulai dari Rp2,5 juta sampai Rp4 juta per set. Mahal karena bahannya banyak dan tekniknya timbul, tidak semua daerah bisa membuat,” jelasnya.

Dalam sebulan, produksi memang belum masif. Rata-rata satu pengrajin menghasilkan satu hingga dua produk, tergantung waktu luang. Namun, nilai jual yang tinggi membuat usaha ini tetap menjanjikan secara ekonomi.

Menariknya, pasar produk tekat ini tidak hanya terbatas di dalam negeri. Permintaan datang dari berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, hingga Australia. Konsumen pun beragam, mulai dari masyarakat umum hingga kalangan pejabat.

“Banyak pembeli dari Malaysia dan Batam. Bahkan istri pejabat juga ada,” kata Laini.

Pemasaran dilakukan secara sederhana namun efektif, yakni melalui jaringan pertemanan di luar negeri yang membantu mempromosikan produk secara online. Cara ini terbukti mampu memperluas jangkauan pasar hingga mancanegara.

Perkembangan usaha Laini tidak lepas dari dukungan Bank Indonesia Kepri. Melalui program pembinaan UMKM, ia mendapatkan bantuan mesin jahit, pelatihan, hingga fasilitasi promosi ke berbagai daerah.

“Dari BI kami dapat mesin jahit, pelatihan, dan kesempatan ikut promosi ke beberapa kota,” ujarnya.

Saat ini, kelompok usahanya telah memiliki 10 unit mesin, terdiri dari mesin obras dan mesin jahit, yang membantu meningkatkan produktivitas.

Ke depan, Laini berharap Bank Indonesia terus memberikan pendampingan agar usahanya bisa berkembang lebih besar lagi.

“Saya berharap BI terus membimbing kami dan memberi dukungan supaya usaha ini bisa semakin maju,” katanya.

Kisah Laini Rustika menjadi gambaran nyata bagaimana UMKM berbasis budaya mampu bertahan dan berkembang di tengah tantangan ekonomi. Dengan sentuhan inovasi, dukungan lembaga, serta semangat kolaborasi, produk tradisional seperti tekat tak hanya lestari, tetapi juga menjadi komoditas bernilai tinggi di pasar global. (Iman Suryanto)

Pos terkait