Dibina Pertamina Patra Niaga, KWT di Batam Ubah Limbah Sabut Kelapa Jadi Peluang Ekonomi

KABAREKONOMI.CO.ID, BATAM – Di balik tumpukan sabut kelapa yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah di wilayah pesisir, tersimpan peluang ekonomi baru yang perlahan mulai tumbuh di Kampung Berdikari Nongsa melalui Kelompok Wanita Tani (KWT).

Melalui tangan-tangan para pelaku Unit Bank Sampah binaan Pertamina Patra Niaga, limbah kelapa kini disulap menjadi produk bernilai jual, yakni cocopeat, media tanam yang banyak dibutuhkan sektor pertanian dan urban farming.

Bacaan Lainnya

Salah satu penggerak kegiatan ini, Nela, yang juga Bendahara Unit Bank Sampah, menjelaskan bahwa proses pengolahan cocopeat dimulai dari sabut kelapa yang dikumpulkan dari Kampung Terih. Limbah tersebut kemudian digiling menggunakan mesin pencacah sebelum melalui tahapan penting, yakni penghilangan zat tanin.

“Kalau langsung dipakai tidak bisa, Pak. Harus dihilangkan dulu kotorannya,” ujarnya.

Menariknya, untuk mempercepat proses tersebut, mereka tidak lagi hanya mengandalkan air biasa. Sebuah inovasi sederhana diterapkan, yakni penggunaan ekoenzim dengan perbandingan sekitar 1 liter air untuk 10 ml ekoenzim.

Bahan tersebut kemudian digunakan untuk merendam sabut kelapa selama 1 x 24 jam sebelum dicuci hingga warna air tidak lagi kemerahan.

Setelah proses perendaman selesai, bahan dijemur hingga kering dan siap dipasarkan. Tahapan sederhana ini justru menjadi kunci terbentuknya produk bernilai ekonomi dari bahan yang sebelumnya tidak memiliki harga.

Bagi kelompok wanita tani, kegiatan tersebut bukan sekadar mengolah limbah. Lebih dari itu, keberadaan program pembinaan membuka kesempatan bagi masyarakat untuk belajar mengembangkan potensi yang ada di lingkungan sekitar.

Pos terkait