Dongkrak Ekonomi Nasional, Pemerintah Genjot Utilisasi Industri dan Substitusi Impor Rp400 Triliun

Persoalan serupa juga dialami industri bihun yang membutuhkan beras pecah sebagai bahan baku. Harga beras pecah di pasar internasional berada di kisaran Rp5.700 hingga Rp6.000 per kilogram, sedangkan harga di dalam negeri mencapai sekitar Rp11.000 per kilogram.

Perbedaan harga tersebut dinilai memberikan tekanan terhadap daya saing industri nasional. Pemerintah kini berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk mencari solusi pasokan bahan baku dengan harga yang lebih kompetitif, tanpa mengabaikan kondisi persediaan beras nasional.

Bacaan Lainnya

“Dengan mencukupi hal-hal tadi itu, salah satu di antaranya bahan baku, maka utilisasi sektor industri kita akan meningkat,” katanya.

Di tengah tantangan tersebut, Sarmuji menegaskan industri manufaktur Indonesia masih menunjukkan kinerja ekspansif.

Pada triwulan II-2026, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.

Sepanjang 2025, industri pengolahan juga tumbuh 5,3 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,11 persen.

Kontribusi sektor manufaktur juga terlihat dari kinerja perdagangan dan investasi. Hingga Agustus 2026, nilai ekspor industri pengolahan mencapai US$159,55 miliar atau setara 82,40 persen dari total ekspor nasional.

Sektor ini juga menyumbang 38,98 persen terhadap realisasi investasi nasional. Sementara penyerapan tenaga kerja industri pengolahan hingga Mei 2026 mencapai 19,98 juta orang.

Indikator lainnya terlihat dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Oktober 2026 yang meningkat menjadi 53,77 dari 51,9 pada bulan sebelumnya. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur September 2026 juga berada di level 52,1.

Pos terkait