Dunia Mulai Diversifikasi dari US Treasury, Indonesia Perlu Waspadai Risiko Global

Keseluruhan peristiwa tersebut belum dapat disebut sebagai pelarian massal dari Amerika Serikat.

Namun, pesannya tetap penting: negara-negara besar semakin mempertimbangkan faktor geopolitik, likuiditas, lokasi penyimpanan, dan ketahanan terhadap krisis ketika mengelola aset cadangan.

Bacaan Lainnya

Ketika Utang Amerika Mulai Dipertanyakan

Persoalan utama Amerika Serikat berada pada lintasan fiskalnya.

Utang pemerintah AS telah menembus angka US$40 triliun pada Agustus 2026. Pada saat yang sama, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS ikut menjadi perhatian pasar global. Pada awal September, yield Treasury 10 tahun berada di sekitar 4,8 persen.

Angka utang yang terus meningkat membuat biaya pembiayaan menjadi persoalan semakin besar.

Mekanismenya sederhana.

Ketika pemerintah terus mengalami defisit, pemerintah harus menerbitkan lebih banyak obligasi. Ketika pasokan utang meningkat dan investor meminta kompensasi lebih tinggi, imbal hasil ikut naik.

Ketika bunga meningkat, beban anggaran pemerintah juga bertambah.

Terbentuklah lingkaran yang tidak mudah diputus.

Pemerintah harus membayar bunga atas utang lama, sementara kebutuhan pembiayaan baru tetap berjalan.

Tekanan tersebut tidak hanya berdampak terhadap Amerika Serikat. US Treasury merupakan salah satu acuan utama dalam sistem keuangan global.

Ketika yield Treasury meningkat, biaya pembiayaan di berbagai negara juga dapat ikut terdorong.

Obligasi korporasi, pembiayaan proyek, kredit perumahan hingga surat utang negara berkembang dapat terkena dampaknya.

Pemerintah AS sendiri telah memperluas program buyback obligasi jangka panjang untuk membantu menjaga likuiditas pasar. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintah ingin menjaga pasar tetap tertib dan menolak anggapan bahwa pasar Treasury sedang mengalami kekacauan.

Namun, buyback tidak menyelesaikan persoalan defisit struktural.

Ia lebih menyerupai upaya mengelola tekanan pasar daripada menyelesaikan akar persoalan fiskal.

Dunia Belum Meninggalkan Dolar

Meskipun persoalan fiskal Amerika semakin menjadi perhatian, keruntuhan US Treasury atau dolar AS belum menjadi skenario utama.

Amerika masih memiliki sejumlah keunggulan yang sulit digantikan dalam waktu singkat.

Dolar tetap menjadi mata uang utama dalam sistem keuangan global. Pasar Treasury juga memiliki skala dan likuiditas yang sangat besar.

Selain itu, perekonomian Amerika masih memiliki kekuatan besar dalam inovasi, teknologi, pasar modal dan investasi, termasuk dalam pengembangan kecerdasan buatan.

Karena itu, fenomena yang berlangsung lebih tepat disebut diversifikasi, bukan eksodus.

Bank sentral dapat menambah emas, memperluas penggunaan mata uang lokal, mengubah lokasi penyimpanan aset, serta mengurangi ketergantungan terhadap satu jenis instrumen.

Masalahnya, dunia juga belum memiliki alternatif tunggal yang mampu menggantikan dolar secara penuh.

Jepang menghadapi persoalan utang pemerintah yang tinggi. Sejumlah negara Eropa juga menghadapi tekanan fiskal.

China memiliki kapasitas ekonomi yang besar, tetapi pasar keuangannya belum memiliki tingkat keterbukaan dan likuiditas yang sama dengan pasar Amerika.

Karena itu, perubahan sistem keuangan global kemungkinan berlangsung secara bertahap.

Mengapa Indonesia Harus Waspada?

Bagi Indonesia, persoalan tersebut tetap perlu diperhatikan.

Kenaikan yield Treasury dapat memengaruhi Indonesia melalui beberapa saluran.

Pertama, investor akan membandingkan keuntungan memegang Surat Berharga Negara (SBN) dalam rupiah dengan Treasury dalam dolar AS.

Pos terkait