KABAREKONOMI.CO.ID, BATAM — Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mulai memasuki babak baru dalam pengembangan ekonomi digital. Industri data center atau pusat data kini semakin diperhitungkan sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi baru, di tengah masih kuatnya dominasi sektor manufaktur.
Perkembangan tersebut dinilai penting karena dapat memperluas struktur ekonomi Kepri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap industri pengolahan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri, Rony Widijarto Purubaskoro disela-sela Bicang Bareng Media Kantor PErwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau pada Selasa (15/9/2026), mengatakan pertumbuhan industri pusat data membuka peluang besar bagi Kepri untuk melakukan diversifikasi ekonomi.
Peluang itu muncul seiring dengan kinerja ekonomi Kepri yang terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan data BI, perekonomian Kepri pada Semester I 2026 tumbuh 7,02 persen, jauh di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,45 persen.
Dengan capaian tersebut, Kepri tercatat menjadi provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatera selama enam triwulan berturut-turut.
Menurut Rony, perkembangan data center tidak hanya memberikan dampak langsung melalui investasi, tetapi juga menciptakan efek berantai terhadap berbagai sektor pendukung.
Kebutuhan terhadap pusat data dalam skala besar, misalnya, akan mendorong permintaan terhadap pasokan energi yang andal, infrastruktur digital, jaringan telekomunikasi, jasa teknis hingga tenaga kerja dengan kompetensi khusus.
“Perkembangan data center ini membuka peluang diversifikasi ekonomi. Ekosistem yang terbentuk juga akan menciptakan kebutuhan terhadap berbagai sektor pendukung,” kata Rony.
Investasi Kepri Melonjak
Peluang pertumbuhan dari industri digital tersebut datang bersamaan dengan derasnya arus investasi ke Kepri.
BI mencatat pembentukan modal atau investasi di Kepri meningkat sekitar 24 persen. Kenaikan tersebut antara lain tercermin dari meningkatnya impor barang modal berupa mesin dan peralatan yang digunakan untuk pembangunan pabrik maupun proyek fisik.
“Kondisi itu menunjukkan bahwa aktivitas investasi di Kepri masih bergerak kuat dan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi daerah,” tegasnya.
Meski demikian, struktur ekonomi Kepri hingga saat ini masih bertumpu pada industri pengolahan. Kota Batam menjadi motor utama perekonomian provinsi dengan kontribusi terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kepri mencapai lebih dari 65 persen hingga mendekati 70 persen.
“Kehadiran data center ini, kam pandang sebagai peluang untuk memperluas basis ekonomi tersebut. Mengingat, di balik besarnya peluang industri pusat data, pemerintah daerah juga menghadapi tantangan untuk memastikan manfaat investasi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” tegasnya.
Investasi teknologi tinggi membutuhkan tenaga kerja dengan keahlian spesifik. Karena itu, tambahnya, peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal menjadi salah satu faktor penting agar masyarakat Kepri tidak hanya menjadi penonton di tengah ekspansi industri digital.
Selain itu, sektor usaha lokal juga perlu didorong agar dapat masuk ke dalam rantai pasok dan ekosistem pendukung data center.
“Jika hal tersebut berjalan optimal, pertumbuhan investasi di sektor teknologi dan manufaktur diharapkan tidak berhenti pada peningkatan nilai investasi semata, tetapi turut meningkatkan konsumsi rumah tangga, membuka lapangan kerja dan menekan tingkat pengangguran,” tutupnmya. (Iman Suryanto)
