KABAREKONOMI.CO.ID, JAKARTA — Target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen membutuhkan dukungan energi yang besar, termasuk pembangunan pembangkit dan jaringan energi terbarukan. Kebutuhan investasi untuk pembangunan pembangkit dan jaringan energi terbarukan hingga 2060 diperkirakan mencapai sekitar US$1 triliun.
Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Elen Setiadi mengatakan, kebutuhan investasi tersebut menjadi bagian dari agenda pemerintah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus mempercepat transisi energi.
“Seluruh agenda ini membutuhkan investasi yang besar, di mana kebutuhan mobilisasi investasi untuk mendukung pertumbuhan 8 persen diperkirakan sekitar US$799 miliar, sementara pembangunan pembangkit dan jaringan energi terbarukan hingga 2060 membutuhkan sekitar US$1 triliun,” ujar Elen di Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Menurut Elen, besarnya kebutuhan investasi membuat pemerintah perlu memperkuat iklim investasi untuk mendorong keterlibatan sektor swasta, investor global, serta pembiayaan inovatif dalam pengembangan energi terbarukan.
Ia mengatakan transisi energi ditempatkan pemerintah sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional. Kebijakan tersebut diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, memperkuat ketahanan dan kemandirian energi, serta mencapai target net zero emission pada 2060.
Konsumsi Listrik Diproyeksikan Meningkat
Elen menilai peningkatan kebutuhan energi tidak dapat dipisahkan dari upaya mencapai pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi. Pemerintah memproyeksikan konsumsi listrik nasional meningkat hingga 600 terawatt hour (TWh), dengan konsumsi mendekati 2.000 kilowatt hour (kWh) per kapita pada 2030.
“Kita yakin bahwa tidak ada industri tanpa energi, tanpa listrik. Jadi ini kalau Pak Edi bilang suatu keniscayaan, ya memang suatu keharusan yang memang harus kita lakukan transformasi sehingga kebijakan untuk menumbuhkan ekonomi dan industrialisasi itu sepadan, sejalan dengan pengembangan energi,” kata Elen.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah mendorong pengembangan berbagai sumber energi baru dan terbarukan, mulai dari energi surya, hidro, angin, bioenergi, panas bumi, hingga energi laut.
Namun, menurut Elen, tantangan yang dihadapi bukan hanya mengembangkan sumber energi terbarukan, tetapi juga mengubah potensi tersebut menjadi investasi, industri, dan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Karena itu, pemerintah turut mendorong pembangunan infrastruktur pendukung, termasuk transmisi, interkoneksi, penyimpanan energi, serta sistem kelistrikan yang fleksibel.
Pemerintah merencanakan pembangunan green super grid sepanjang 70.000 kilometer hingga 2040. Infrastruktur tersebut ditujukan untuk menghubungkan potensi energi terbarukan dengan pusat industri dan kawasan pertumbuhan ekonomi.
Pendanaan Energi Terbarukan
Dari sisi pendanaan, Elen menyebut pemerintah telah memiliki sumber pendanaan sebesar US$21,4 miliar. Namun, tingkat penyerapannya masih relatif kecil.
Pemerintah kini mengevaluasi mekanisme agar sumber pendanaan tersebut dapat dimanfaatkan oleh badan usaha untuk mempercepat pembangunan proyek energi baru dan terbarukan.
“Kita punya sumber pendanaan JP sampai saat ini sudah US$21,4 miliar, penyerapannya masih kecil. Jadi hari ini kami terus berevaluasi dengan teman-teman semua, bagaimana ada sumber pendanaan ini bisa dimanfaatkan oleh badan usaha, terutama, sehingga kita bisa mempercepat proyek-proyek untuk energi baru dan terbarukan ini,” tegas Elen.
SUMBER: KOMPAS
