Festival Budaya Batak di Batam, Upaya Menjaga Tradisi agar Tak Terkikis Modernisasi

Ia bahkan menyebut Batam kini layak dipandang sebagai bona pasogit ketiga setelah Tapanuli Raya dan Jakarta. Jakarta menjadi salah satu pusat komunitas Batak terbesar di luar tanah asalnya, dengan berbagai kegiatan adat yang berlangsung hampir setiap hari.

Meski kemampuan parhata adat di Jakarta maupun Batam masih memiliki perbedaan dengan tradisi di Tapanuli Raya, proses adaptasi terus berlangsung. Sejumlah tradisi bahkan mulai dikemas lebih modern tanpa menghilangkan makna dasarnya.

Bacaan Lainnya

Semangat itulah yang hendak diangkat melalui festival budaya Batak di Batam.

“Ini yang kita sasar dalam kegiatan festival lomba tortor Batak, lomba persinabung, meminta gondang, serta lomba busana adat Batak yang akan diselenggarakan nanti,” ujarnya.

Ketika Modernisasi Menguji Akar Budaya

Di tengah perkembangan teknologi, tantangan menjaga identitas budaya menjadi semakin kompleks.

Kemunculan kecerdasan buatan (AI), teknologi digital, dan berbagai platform daring telah mengubah cara masyarakat berinteraksi dan mendapatkan informasi.

Kemajuan tersebut membawa banyak manfaat, tetapi pada saat yang sama dapat membuat generasi muda semakin jauh dari tradisi yang diwariskan leluhur.

Yohannes menilai modernisasi semestinya tidak membuat budaya lokal kehilangan tempat.

“Sisi yang lain, adanya kemajuan seperti AI, teknologi online dan sebagainya itu cenderung menghilangkan jati diri. Kemajuan membuat orang berlomba-lomba terus lebih maju. Akhirnya dia meninggalkan akar budayanya,” katanya.

Karena itu, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mengingat atau mempertahankan bentuk-bentuk lama. Budaya juga perlu diberi ruang untuk berkembang dan memiliki nilai tambah bagi masyarakat.

Pos terkait