“Ini final turnamen besar, tapi pengamanan dan tata kelola tribun seperti pertandingan biasa. Sangat disayangkan,” tambahnya.
Kritik juga mengarah pada pemilihan venue pertandingan yang dinilai tidak representatif untuk menampung antusiasme ribuan penonton.
“Area tribun yang terbatas membuat suporter kedua kubu berdesakan dalam satu titik, sehingga potensi gesekan sangat mudah terjadi, ” Terangnya.
Sebelumnya, saksi mata bernama Riama menyebut kericuhan bermula dari dugaan aksi provokatif salah satu pemain di lapangan. Libero tim PGRI disebut melakukan gestur yang memancing emosi suporter BP Batam.
“Langsung anak-anak panas dan terjadi lemparan botol air mineral. Akhirnya rusuh,” kata Riama.
Situasi sempat mereda sebelum akhirnya kembali memanas ketika suporter PGRI membalas lemparan ke arah tribun lawan. Akibatnya, botol-botol mineral mengenai penonton umum yang berada di sekitar lokasi.
“Sejumlah ibu-ibu dan anak-anak ikut terkena lemparan. Itu yang membuat suporter semakin emosi,” tambahnya.
Insiden ini kini menjadi sorotan luas masyarakat Batam. Banyak kalangan mendesak adanya evaluasi total terhadap penyelenggaraan event olahraga daerah, terutama yang melibatkan massa besar dan rivalitas tinggi.
Penyelenggara dianggap tidak boleh hanya fokus pada kemeriahan acara, tetapi juga wajib memastikan keselamatan penonton, atlet, dan tamu undangan.
Tanpa pembenahan serius, turnamen olahraga yang seharusnya menjadi ruang hiburan dan persatuan justru berpotensi menjadi pemicu konflik di tengah masyarakat.(iman)
