Insiden ini memicu kritik terhadap penyelenggaraan turnamen. Banyak pihak menilai ajang sekelas Piala Wali Kota seharusnya disiapkan dengan standar keamanan dan fasilitas yang lebih baik.
Tony, pencinta olahraga voli yang ditemui di lokasi, menilai panitia kurang mengantisipasi potensi keramaian suporter kedua tim.
“Panitia tidak melihat situasi. Sudah tahu suporter PGRI dan BP Batam sama-sama banyak, tapi venue tetap dipakai. Padahal tidak standar, penerangan juga kurang,” ujarnya.
Ia juga menyoroti gangguan teknis selama pertandingan, termasuk insiden mati lampu yang disebut tidak diantisipasi dengan ketersediaan genset.
“Ketika mati lampu, panitia tidak siapkan genset. Bahkan katanya kalau lampu tidak hidup empat jam, pertandingan diulang besok dari 0-0. Tim BP Batam sudah beberapa kali dirugikan seperti itu,” katanya.
Tony menilai kejadian ini harus menjadi pelajaran serius bagi penyelenggara, khususnya Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), agar turnamen serupa ke depan disiapkan dengan standar yang lebih layak.
“Ini Piala Wali Kota, bukan pertandingan tingkat RT atau kecamatan. Harusnya lebih profesional,” tegasnya.
Kericuhan ini menjadi catatan penting bagi penyelenggara olahraga di Batam, sekaligus pengingat bahwa euforia olahraga tanpa pengelolaan keamanan dan fasilitas yang memadai dapat berubah menjadi risiko keselamatan bagi penonton. (Iman Suryanto)
