Gonggong yang Tak Lagi Terbuang: Kisah Kolaborasi PGN dan Masyarakat Tembesi

PGN melihat persoalan ini tidak semata-mata sebagai masalah teknis, tetapi juga hambatan psikologis bagi masyarakat yang mulai kehilangan harapan pada pertanian ramah lingkungan.

Di saat yang sama, Tembesi memiliki satu potensi yang selama ini terabaikan: timbunan limbah cangkang gonggong. Setiap hari, cangkang-cangkang itu menumpuk dari aktivitas kuliner warga, dibiarkan menjadi sampah yang tak terkelola secara optimal.

Bacaan Lainnya

PGN kemudian memunculkan ide yang awalnya terdengar sederhana: bagaimana jika limbah cangkang itu diolah menjadi penetral tanah?

Ide itu melahirkan inovasi SI GOPAL – “Sisa Gonggong Jadi Penetral Lahan”. Melalui pembentukan Poklahsar Lance Perkasa, ibu-ibu rumah tangga yang tidak memiliki penghasilan tetap menjadi aktor utama pengolahan limbah tersebut.

Mereka belajar mengumpulkan, membersihkan, mengeringkan, menggiling, hingga mengemas bubuk tinggi kalsium dari cangkang gonggong secara mandiri.

“Inovasi ini tidak hanya meningkatkan kualitas lahan pertanian, tetapi juga mendorong praktik pertanian ramah lingkungan serta memperkuat penerapan ekonomi sirkular berbasis potensi lokal,” lanjut Fajriyah.

Hanya dalam setahun berjalan, SI GOPAL mencatat dampak yang bukan sekadar statistik:
1. 0,288 ton limbah cangkang gonggong berhasil dikurangi—angka yang menunjukkan perubahan perilaku dan keberlanjutan.
Peningkatan pendapatan keluarga nelayan, di mana setiap 5 kg bubuk yang terjual menambah Rp25.000 bagi anggota kelompok.

2. Efisiensi biaya produksi sebesar 4% di KWT, membantu petani menekan pengeluaran sekaligus meningkatkan produktivitas.

3. Munculnya kelompok baru Poklahsar Lance Perkasa membuka ruang partisipasi lebih luas untuk perempuan dalam kegiatan sosial-ekonomi.

4. Lebih dari sekadar menciptakan produk, SI GOPAL membangun rasa percaya diri warga bahwa solusi terbaik bagi mereka dapat lahir dari lingkungan mereka sendiri.

Kini, PELITA Tembesi bukan lagi sekadar program tahunan, tetapi menjadi fondasi perubahan jangka panjang. Ia membuktikan bahwa kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat dapat memunculkan inovasi transformatif, yang menyentuh persoalan roots-level—lingkungan, ekonomi, hingga pemberdayaan perempuan.

Di tangan ibu-ibu Poklahsar, cangkang gonggong yang dulu hanya menjadi sampah kini berubah menjadi simbol ketahanan. Di lahan-lahan KWT, tanah yang dulu ditinggalkan kini kembali ditanami. Dan di tengah masyarakat Tembesi, optimisme baru tumbuh pelan-pelan, seteguh aroma serbuk gonggong yang mengering di bawah matahari pagi.

PELITA Tembesi hadir bukan untuk menggurui, tetapi untuk menyalakan lilin di tempat yang sebelumnya gelap. Dan dari Tembesi, cahaya itu perlahan menyebar—membawa pesan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari sesuatu yang kecil, bahkan dari sebutir cangkang gonggong yang terbuang. (***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *