Pihak pengelola, lanjut dia, terus mempercepat penyelesaian kebutuhan tersebut agar masyarakat dapat segera berpindah dan menjalankan aktivitas secara normal.
“Begitu fasilitas itu terpenuhi, mereka akan langsung pindah. Target kami, seluruh proses relokasi ini bisa selesai dalam semester pertama tahun 2026,” tegasnya.
Program relokasi ini merupakan bagian dari percepatan pengembangan kawasan industri strategis di Tanjung Sauh yang dirancang untuk menjadi salah satu pusat investasi dan industri maritim baru di Batam.
Selain penataan kawasan pesisir, relokasi juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui hunian yang lebih tertata dan didukung akses fasilitas dasar seperti air bersih, sanitasi, dan sarana pendukung aktivitas nelayan.
“Intinya, relokasi ini tidak hanya soal pemindahan tempat tinggal, tetapi juga bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, agar mereka memiliki lingkungan yang lebih baik dan mendukung aktivitas ekonomi,” tambah Eka.
Panbil Group optimistis seluruh hunian relokasi dapat segera terisi penuh dan dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat penerima manfaat seiring percepatan pembangunan kawasan.
Sebagai informasi, pengembangan KEK Tanjung Sauh menjadi salah satu proyek strategis dengan skala investasi besar di Batam. Kawasan ini memiliki luas sekitar 840,6 hektare yang mencakup area darat dan laut serta diproyeksikan menjadi pusat industri pengolahan, logistik, distribusi, dan energi.
Pemerintah menetapkan kawasan ini melalui regulasi KEK dengan komitmen investasi mencapai Rp199,6 triliun.
Sementara pada tahap awal, pengembang menyiapkan investasi sekitar Rp5–10 triliun untuk pembangunan infrastruktur dasar seperti waduk, pelabuhan, jaringan jalan, pengelolaan air limbah, dan utilitas kawasan dalam lima tahun pertama. Kawasan ini juga diproyeksikan mampu menyerap hingga 366 ribu lapangan kerja dalam jangka panjang. (Iman Suryanto)
