Indonesia Emas 2045: Ketika Kekayaan Terkonsentrasi, Kekuasaan Ikut Terancam (2-3)

Lukita Dinarsyah Tuwo
Lukita Dinarsyah Tuwo

OPINI oleh :  Lukita Dinarsyah Tuwo

Indonesia ingin menjadi negara maju pada 2045. Cita-citanya jelas: ekonomi yang besar, pendapatan per kapita yang tinggi, kemiskinan yang semakin rendah, kelas menengah yang semakin kuat, dan pembangunan yang semakin merata.

Bacaan Lainnya

Namun di balik seluruh target tersebut terdapat pertanyaan yang tidak kalah penting: ketika Indonesia menjadi semakin kaya, bagaimana kekayaan itu akan terdistribusi dan siapa yang akan menguasainya?

Pertanyaan ini menjadi penting setelah membaca dua karya yang datang dari arah berbeda. Yang pertama adalah buku terbaru Jeffrey Winters, The Blind Spot: How Oligarchs Dominate Our Democracy. Yang kedua adalah laporan Center of Economic and Law Studies atau CELIOS, Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026: Republik Oligarki.

Winters memberikan kerangka teoretis tentang bagaimana konsentrasi kekayaan dapat berubah menjadi konsentrasi kekuasaan. CELIOS mencoba menunjukkan bagaimana ketimpangan kekayaan tersebut terlihat dalam konteks Indonesia.

Keduanya membawa kita kepada pertanyaan yang lebih besar: apakah Indonesia Emas 2045 akan menghasilkan masyarakat yang semakin sejahtera dan inklusif, atau justru ekonomi yang semakin besar dengan kekayaan yang semakin terkonsentrasi?

Angka yang Mengusik
Laporan CELIOS yang diterbitkan pada April 2026 memberikan sejumlah angka yang layak menjadi bahan renungan. Berdasarkan pengolahan terhadap data Forbes, kekayaan 50 orang terkaya Indonesia diperkirakan mencapai sekitar Rp4.651 triliun, sebanding dengan kekayaan sekitar 55 juta penduduk Indonesia.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa kekayaan kelompok 50 orang terkaya meningkat hampir dua kali lipat dibanding sekitar Rp2.508 triliun pada 2019.

Angka tersebut tentu harus dibaca dengan hati-hati. Ia bukan statistik kekayaan resmi yang dihasilkan melalui sensus aset seluruh penduduk Indonesia. Estimasi kekayaan kelompok terkaya antara lain bersumber dari data Forbes, sehingga memiliki metodologi dan keterbatasannya sendiri.

Namun arah pesannya sulit diabaikan: terdapat konsentrasi kekayaan yang sangat besar pada lapisan yang sangat tipis dari masyarakat Indonesia.

Pos terkait