Indonesia Siap Jadi Pusat Inovasi Kesehatan, Kemenkes Gandeng Investor Global

KABAREKONOMI.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan komitmennya menjadikan Indonesia sebagai mitra strategis bagi investor global dalam mendorong inovasi di sektor kesehatan. Pemerintah membuka peluang kolaborasi yang luas, mulai dari pengembangan kesehatan digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), robotik medis, teknologi genomik, hingga penguatan talenta kesehatan.

Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes, Rizka Andalusia, mengatakan transformasi sistem kesehatan nasional tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata. Menurutnya, kolaborasi dengan investor, perusahaan inovatif, dan mitra strategis menjadi faktor penting dalam mempercepat modernisasi layanan kesehatan di Indonesia.

Bacaan Lainnya

“Indonesia siap berkolaborasi. Tidak hanya sebagai pasar, tetapi sebagai mitra dalam inovasi. Kami menyambut baik kerja sama yang lebih besar dalam kesehatan digital, kecerdasan buatan, kedokteran presisi, genomik, interoperabilitas data kesehatan, teknologi medis, riset dan pengembangan, serta pengembangan talenta kesehatan,” ujar Rizka dalam Novo Holdings Indonesia Partnering Day 2026, Rabu (29/7/2026).

Rizka menilai Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat besar di sektor kesehatan. Saat ini, belanja kesehatan per kapita Indonesia masih berada di kisaran US$140, lebih rendah dibandingkan beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Sementara itu, total belanja kesehatan nasional telah mencapai Rp614 triliun pada 2023 atau sekitar 2,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Untuk mendukung transformasi tersebut, Kemenkes tengah membangun ekosistem kesehatan digital nasional yang mengintegrasikan data dan layanan kesehatan dari fasilitas pelayanan primer, rumah sakit, laboratorium, klinik, hingga lembaga kesehatan masyarakat.

Selain digitalisasi layanan, pemerintah juga terus mengembangkan pemanfaatan teknologi canggih seperti AI, robotik kesehatan, dan teknologi genomik guna meningkatkan kualitas pelayanan medis.

Menurut Rizka, teknologi tersebut bukan untuk menggantikan tenaga kesehatan, melainkan menjadi alat pendukung agar dokter dan tenaga medis dapat memberikan layanan yang lebih cepat, akurat, dan efektif.

Pos terkait