Di sisi strategi korporasi, Indosat juga berhasil menyelesaikan proses carve out aset jaringan serat optik sebagai bagian dari transformasi menuju organisasi yang lebih ringan aset (asset-light organization). Dalam proses tersebut, perusahaan menggandeng Asianet Group dan telah menerima dana transaksi sekitar Rp11,7 triliun.
Meski melepas sebagian aset, Indosat tetap memegang 49 persen kepemilikan pada perusahaan hasil kerja sama tersebut. Platform baru ini akan menjadi kendaraan utama untuk memperluas jaringan fiber nasional, mempercepat pembangunan fiber-to-site, mengembangkan layanan Fiber-to-the-Home (FTTH), sekaligus mendukung pembangunan infrastruktur AI di Indonesia.
Vikram menilai keberadaan platform tersebut akan menjadi fondasi penting dalam menyambut era AI Supercycle, ketika kebutuhan terhadap pusat data, komputasi awan, dan jaringan digital diperkirakan meningkat secara signifikan.
Tak hanya itu, bisnis AI Cloud yang dikembangkan Indosat juga mulai menunjukkan prospek yang menjanjikan. Hingga Semester I, pendapatan dari layanan tersebut telah mencapai sekitar 33 juta dolar AS, sementara nilai kontrak yang telah diamankan untuk sepanjang tahun diperkirakan mencapai sekitar 113 juta dolar AS.
“AI Cloud kini mulai menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru bagi Indosat. Ke depan akan ada banyak perkembangan penting yang akan kami hadirkan,” kata Vikram.
Melihat tren positif tersebut, Indosat memutuskan menaikkan target pertumbuhan pendapatan dan EBITDA dari sebelumnya berada pada kisaran mid-to-high single digit menjadi mendekati double digit.
Perusahaan juga meningkatkan alokasi belanja modal (CapEx) secara signifikan dari Rp13 triliun menjadi Rp23 triliun. Tambahan investasi sebesar Rp10 triliun sepenuhnya diarahkan untuk mempercepat pengembangan jaringan 5G, menyusul selesainya proses alokasi spektrum 2,6 GHz dan 700 MHz oleh pemerintah.
