Setelah sempat mengalami kontraksi produksi dalam beberapa tahun terakhir, sektor ini kembali bangkit. Beroperasinya Lapangan Forel dan Terubuk pada Mei 2025 silam, menjadi titik balik penting. Dan menambah kapasitas produksi sekitar 30.000 barrel oil equivalent per day (BOEPD).
Proyek tersebut juga menyerap lebih dari 2.300 tenaga kerja, di mana 1.386 orang bekerja di galangan kapal Batam yang menangani fasilitas produksi lepas pantai.
Di tingkat lokal, jelasnya lagi, keterlibatan tenaga kerja dari daerah semakin besar. Di Anambas misalnya, pekerja lokal banyak terserap di posisi operator dan foreman. Kondisi ini berdampak langsung terhadap pendapatan rumah tangga, daya beli masyarakat, dan perputaran ekonomi daerah.
Dampaknya tidak langsung juga terasa pada usaha kecil, mulai dari warung, penginapan, jasa transportasi, hingga UMKM yang melayani kebutuhan proyek migas.
“Inilah multiplier effect yang sesungguhnya, ketika satu sektor menggerakkan sektor lain,” ungkapnya lagi.
Selain manfaat ekonomi, multiplier effect juga hadir melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat. Di Kabupaten Natuna dan Kabupaten Kepulauan Anambas misalnya, SKK Migas bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) menjalankan program sosial, pendidikan dan lingkungan.
Dimana program ini meliputi beasiswa bagi pelajar berprestasi, pelatihan keterampilan bagi nelayan, pemberdayaan perempuan melalui kerajinan dan UMKM, hingga bantuan sarana pendidikan dan kesehatan.
Selain itu, ada juga pelatihan teknis, seperti keselamatan kerja migas, pengelasan, dan operator alat berat, agar masyarakat lokal memiliki kompetensi untuk terlibat langsung dalam industri migas.










