Investasi Batam Melonjak 62,75 Persen, Sektor Teknologi Tinggi Jadi Penggerak

KABAREKONOMI.CO.ID, BATAM — Realisasi investasi di Kota Batam, Kepulauan Riau, mencapai Rp29,89 triliun sepanjang Semester I 2026. Angka tersebut tumbuh 62,75 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) dan menyumbang sekitar 2,96 persen dari total investasi nasional.

Deputi Bidang Promosi BP Batam, Dendi Gusnandar, mengatakan pertumbuhan investasi Batam tercatat sekitar 8,7 kali lebih cepat dibandingkan rata-rata pertumbuhan investasi nasional.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan percepatan dalam proses investasi di Batam, seiring dengan penguatan pelayanan dan pembangunan kawasan.

“Apa yang tadinya kita targetkan dari hitungan tahunan, saat ini semua diperpendek perjalanannya menjadi hitungan bulan berkat etos kerja, pelayanan, dan keseriusan kita membangun Batam,” kata Dendi.

Realisasi investasi pada Semester I 2026 tersebut tercatat 87 persen lebih tinggi dibandingkan investasi setahun penuh pada 2023. Bahkan, capaian tersebut telah melampaui 17,4 persen investasi setahun penuh pada 2024.

Untuk 2026, Batam menargetkan realisasi investasi sebesar Rp70 triliun. Dengan capaian Rp29,89 triliun pada Semester I, sekitar 42,7 persen target tahunan telah terealisasi.

Artinya, masih terdapat sekitar Rp40,11 triliun investasi yang harus dikejar pada Semester II 2026.

Investasi Bergeser ke Industri Berteknologi Tinggi

Dendi mengatakan pertumbuhan investasi tersebut turut menunjukkan adanya transformasi struktur ekonomi Batam.

Batam, kata dia, tidak lagi hanya mengandalkan industri manufaktur konvensional, tetapi mulai bergerak menjadi platform industri terintegrasi yang berbasis teknologi tinggi.

Sekitar 77 persen atau Rp23,01 triliun dari total investasi Semester I 2026 ditopang oleh lima sektor utama.

Sektor elektronik dan peralatan presisi menjadi kontributor terbesar dengan nilai investasi mencapai Rp6,87 triliun atau 23 persen. Pertumbuhan sektor tersebut didukung penerapan advanced manufacturing yang meningkat hingga 122 persen.

Selanjutnya, sektor jasa dan infrastruktur digital mencatat investasi sebesar Rp6,09 triliun atau 20,4 persen. Di dalamnya termasuk investasi pusat data (data centre) yang mencapai sekitar Rp4,5 triliun.

Industri kimia dan farmasi menyumbang Rp3,97 triliun atau 13,3 persen, sementara kawasan industri dan perkantoran mencapai Rp3,52 triliun atau 11,8 persen.

Adapun sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi mencatat investasi sebesar Rp2,55 triliun atau 8,5 persen.

“Komitmen investasi ini sudah berubah menjadi kapasitas ekonomi riil,” ujar Dendi.

Dari total investasi tersebut, Rp14,02 triliun atau 46,9 persen telah berada pada tahap produksi atau aset yang sudah beroperasi. Sementara Rp15,87 triliun atau 53,1 persen masih berada dalam tahap konstruksi.

Realisasi investasi itu juga menyerap 40.423 tenaga kerja Indonesia (TKI) atau sekitar 98,7 persen dari total komposisi tenaga kerja.

Pos terkait