Angka tersebut terdiri atas Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp17,80 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp12,09 triliun.
Namun, bagi Amsakar-Li Claudia, besarnya nilai investasi bukan menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.
Dampak investasi terhadap masyarakat menjadi indikator yang tidak kalah penting, terutama melalui penciptaan lapangan kerja.
Investasi Serap 40.943 Tenaga Kerja
Jumlah tenaga kerja di Batam pada semester I-2026 tercatat mencapai 40.943 orang.
Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 30.979 orang.
Artinya, terdapat tambahan 9.964 tenaga kerja dengan pertumbuhan sebesar 32,16 persen.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan investasi mulai diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi yang lebih nyata melalui penyerapan tenaga kerja.
Karena itu, Batam kini tidak cukup hanya menjadi kota yang mampu menarik investor. Batam perlu menjadi kota yang membuat investor ingin terus tumbuh, melakukan ekspansi, dan membangun ekosistem usaha dalam jangka panjang.
Bidik Industri Teknologi hingga Pariwisata Kesehatan
Untuk memperkuat daya saing, sektor ekonomi Batam juga semakin beragam.
Pengembangan diarahkan ke sejumlah sektor strategis, mulai dari manufaktur berteknologi tinggi, digital, data center, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), energi, logistik internasional, kedirgantaraan, perdagangan dan keuangan internasional, hingga pariwisata kesehatan.
Konektivitas menjadi pengikat berbagai sektor tersebut, sementara infrastruktur menjadi fondasi utamanya.
Di sisi lain, pelayanan dan kepastian berusaha menjadi faktor penguat. Investasi kemudian menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi Batam.
Persaingan antarwilayah dan antarnegara dalam menarik investasi juga semakin ketat. Karena itu, kecepatan pelayanan harus berjalan seimbang dengan kualitas infrastruktur dan kepastian berusaha.
Investor bukan hanya harus tertarik untuk datang ke Batam, tetapi juga merasa aman dan nyaman untuk mengembangkan usahanya dalam jangka panjang.
