Investasi Batam Tumbuh 62,75 Persen, Amsakar-Li Claudia Dorong Ekonomi dari Infrastruktur

Tantangannya kini bukan sekadar bagaimana mendatangkan investor baru, tetapi bagaimana membuat investor yang telah masuk merasa memiliki ruang untuk berkembang dan melakukan ekspansi dalam jangka panjang.

Karena itu, keberhasilan Batam tidak cukup diukur dari berapa besar nilai investasi yang diumumkan. Ukuran lainnya adalah seberapa banyak investasi tersebut benar-benar terealisasi, industri berkembang, tenaga kerja terserap dan aktivitas ekonomi masyarakat ikut bergerak.

Bacaan Lainnya

Capaian investasi Rp38,97 triliun pada semester I-2026 pun belum menjadi garis akhir. Dengan target Rp70 triliun sepanjang tahun, masih terdapat ruang sekitar Rp31,03 triliun yang harus dikejar.

Begitu pula pembangunan jalan. Ruas yang telah selesai bukan sekadar proyek yang dicentang dalam daftar pekerjaan, melainkan bagian dari upaya memperlancar mobilitas ekonomi.

Pada akhirnya, tantangan Batam adalah mengubah kepercayaan menjadi investasi, investasi menjadi industri, industri menjadi lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi menjadi manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Dengan kombinasi percepatan infrastruktur, peningkatan investasi dan perluasan kesempatan kerja, Batam sedang membangun fondasi untuk mempertahankan posisinya sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia di kawasan perbatasan.

Batam tidak cukup hanya menjadi kota yang menarik investor. Kota ini dituntut menjadi tempat yang membuat investor ingin tumbuh, berekspansi dan membangun ekosistem usaha dalam jangka panjang.

Di titik itulah pembangunan infrastruktur dan investasi bertemu: bukan sekadar menghasilkan angka pertumbuhan, tetapi menciptakan aktivitas ekonomi yang semakin nyata bagi masyarakat.

Kalau ingin lebih “nendang” untuk portal berita nasional, judul nomor 1, 4, dan 10 paling kuat karena langsung memasukkan kata kunci investasi Batam, Rp38,97 triliun, tenaga kerja, dan infrastruktur. (Iman Suryanto)

Pos terkait