“Di Jakarta saja, terdapat sekitar 6.000 bayi yang masih mengantre untuk penanganan penyakit jantung bawaan. Dengan keterbatasan kapasitas layanan, tidak semua pasien dapat tertangani secara optimal, bahkan sebagian meninggal sebelum mendapatkan jadwal tindakan,” ungkapnya.
Menurutnya, kehadiran layanan intervensi PJB di daerah melalui fasilitas cathlab seperti di RSBP Batam menjadi alternatif penting agar pasien tidak seluruhnya bergantung pada pusat rujukan nasional.
Sementara itu, Ketua Kelompok Staf Medis (KSM) Kardiologi, Afdalun Hakim, SpJP, menjelaskan bahwa angka kejadian penyakit jantung bawaan di Indonesia berkisar antara 8 hingga 10 kasus per 1.000 kelahiran hidup, sementara jumlah dokter dan fasilitas yang mampu menangani PJB masih sangat terbatas.
“Kondisi ini membuat sebagian peran penanganan turut dibantu oleh lembaga dan yayasan sosial, termasuk Yayasan Jantung. Karena itu, penguatan layanan PJB di rumah sakit daerah menjadi sangat penting,” jelasnya.
Selain tindakan medis, kegiatan ini juga menekankan transfer knowledge kepada dokter dan tenaga kesehatan internal RSBP Batam agar layanan penyakit jantung bawaan dapat dikembangkan secara mandiri dan berkelanjutan di daerah.
