Karena itu, IWSS diharapkan menjadi rumah bersama untuk memperkenalkan filosofi sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge yang mengandung nilai saling memanusiakan, menghormati, dan mengingatkan.
Menurut Andi Nurhiyari, nilai-nilai tersebut bukan sekadar warisan budaya, melainkan pedoman dalam membangun hubungan sosial yang harmonis.
Ia juga mengingatkan masyarakat Sulawesi Selatan di Kepulauan Riau agar tetap menjaga jati diri tanpa mengabaikan adat istiadat masyarakat setempat.
Kepulauan Riau yang dihuni berbagai kelompok etnis dan budaya, menurutnya, membutuhkan sikap saling menghormati agar keberagaman tetap menjadi kekuatan bersama.
“Menjaga budaya sendiri bukan berarti mengabaikan budaya masyarakat tempat kita tinggal. Kita harus mampu mempertahankan jati diri sekaligus menghormati adat istiadat daerah setempat,” menjadi pesan yang ditekankan dalam arahannya.
Andi Nurhiyari turut menyoroti keteguhan, keberanian, dan kemandirian perempuan Bugis-Makassar yang secara turun-temurun berperan dalam menjaga keluarga, beradaptasi di lingkungan baru, serta membantu menopang perekonomian rumah tangga.
Nilai-nilai tersebut dinilai relevan untuk mendorong perempuan masa kini agar terus berkembang dan berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan.
Andi Nurhiyari mengungkapkan bahwa jaringan IWSS telah berkembang di berbagai wilayah Indonesia hingga sejumlah negara, termasuk Malaysia, Kanada, dan Amerika Serikat, khususnya California.
Jaringan tersebut menjadi modal sosial untuk mempererat hubungan kekeluargaan masyarakat Sulawesi Selatan yang tersebar di berbagai belahan dunia.
