KABAREKONOMI.CO.ID, JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang 2026 menunjukkan pola yang berbeda dibandingkan krisis sebelumnya. Selain jumlah kejadian yang melonjak, kebakaran juga semakin meluas ke wilayah non-gambut hingga Indonesia Timur.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi dan kesehatan yang sangat besar. Center for Economic and Law Studies (Celios) memperkirakan total potensi kerugian akibat karhutla pada 2026 mencapai Rp39,29 triliun hingga Rp123,1 triliun.
Data Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat jumlah kejadian karhutla sepanjang Januari-Juni 2026 melonjak 366% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Sementara itu, data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SIPONGI) KLHK mencatat luas areal terbakar sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 202.010,96 hektare secara nasional.
Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan luas areal terbakar terbesar, yakni mencapai 38.310,86 hektare. Posisi berikutnya ditempati Papua Selatan dengan luas areal terbakar 25.838,53 hektare.
Luas areal terbakar di Kalimantan Barat hampir 1,5 kali lipat dibandingkan Papua Selatan dan lebih dari 15 kali lipat dibandingkan Papua Tengah yang mencatat luas areal terbakar 2.519,88 hektare.
Direktur Ekonomi Celios Nailul Huda mengatakan, besarnya dampak karhutla pada 2026 tercermin dari potensi kerugian ekonomi dan kesehatan yang diperkirakan mencapai Rp39,29 triliun hingga Rp123,1 triliun.
Estimasi tersebut tertuang dalam laporan Celios berjudul Yang Sesak Napas dan Yang Membayar Kerugian Ekonomi Kebakaran Hutan. Angka tersebut bahkan belum memperhitungkan kemungkinan karhutla terus meluas hingga akhir 2026.
“Angka Rp123,1 triliun ini setara 49,1% dari proyeksi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalimantan Tengah tahun 2026, dan yang perlu digarisbawahi, angka ini belum menghitung skenario meluasnya karhutla hingga akhir tahun. Artinya, potensi kerugian riil bisa jauh lebih besar dari yang kami sampaikan hari ini,” ujar Huda dalam keterangan tertulis yang diterima Kontan, Selasa (1/9/2026).
Kerugian Ekonomi Capai Rp29,54 Triliun
Huda menjelaskan, kerugian ekonomi yang berasal dari hilangnya aset fisik dan aktivitas ekonomi diperkirakan mencapai Rp29,54 triliun. Nilai tersebut setara dengan 0,23% dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Estimasi tersebut menggunakan pendekatan yang dikembangkan Kiely dkk. (2021) dalam jurnal Nature Communications, yang kemudian dikombinasikan dengan data historis Bank Dunia untuk krisis karhutla pada 2015 dan 2019.
Kerugian tidak hanya berasal dari lahan dan aset yang terbakar. Aktivitas ekonomi di sektor perdagangan, pertanian, akomodasi, serta makanan dan minuman juga berpotensi mengalami kontraksi akibat asap dan gangguan produksi.
Dari sisi wilayah, Kalimantan Barat mencatat dampak ekonomi nominal terbesar dengan nilai sekitar Rp5,7 triliun. Berikutnya Papua Barat sebesar Rp4,3 triliun dan Nusa Tenggara Timur sebesar Rp2,8 triliun.
