Yang paling menyedihkan, saya merasa seolah-olah dijadikan musuh bersama oleh sekelompok wartawan. Bukan karena sebuah perdebatan gagasan yang sehat, melainkan karena rangkaian peristiwa yang hingga kini masih menyisakan banyak pertanyaan bagi saya.
Kini, di hadapan dua pengalaman yang bertolak belakang, saya menemukan makna baru dari sebuah buku.
Ridarman mengusulkan agar kami menulis buku. Saya menyambutnya, lalu kami bekerja bersama hingga Caping benar-benar terbit. Dalam waktu sekitar dua bulan, gagasan itu menemukan wujudnya. Ada proses, ada kerja, dan akhirnya ada hasil yang bisa kami pegang.
Sementara itu, seorang rekan menawarkan untuk menulis biografi saya. Saya percaya, saya memberikan data, bahkan membantu menyediakan sarana dan biaya operasional yang dimintanya. Namun, setelah tiga tahun, janji itu tetap menjadi janji.
Dua gagasan. Dua kepercayaan. Dua hasil yang berbeda. Yang satu menjelma buku dan menghadirkan kegembiraan. Yang lain meninggalkan kekecewaan yang tak mudah dihapuskan.
Saya tidak menyesali keputusan untuk percaya. Sebab, kepercayaan adalah bagian dari kemanusiaan. Tanpa kepercayaan, persahabatan akan kehilangan makna dan kerja bersama akan sulit tumbuh. Namun, pengalaman ini mengajarkan saya bahwa kepercayaan juga harus dijaga dengan tanggung jawab.
Bagi saya, biografi yang tak pernah terbit itu kini bukan lagi sekadar buku yang gagal diwujudkan. Ia menjadi pengingat bahwa tidak semua orang yang pandai merangkai kata mampu menepati kata-katanya sendiri.
Sebaliknya, Caping mengajarkan hal yang sederhana, tetapi mendalam: kesungguhan tidak membutuhkan terlalu banyak janji. Ia cukup dibuktikan melalui kerja.
Terima kasih, Bang Ridarman Bay. Terima kasih juga kepada Suyono Saeran dan semua pihak yang ikut menghadirkan Catatan Pinggir Tiga Wartawan Pulau ke tangan kami.
