Sementara itu di sisi lain, biaya hidup, tarif sewa komersial di ruko, hingga upah tenaga kerja lokal untuk bongkar muat terus merangkak naik mengikuti laju inflasi kota.
“Aturan administrasi makin ketat dan kami sepenuhnya mendukung agar subsidi ini tepat sasaran. Tapi di sisi lain, biaya sewa ruko dan upah pekerja bongkar muat sudah naik berkali-kali lipat dalam beberapa tahun terakhir ini. Menjual dengan harga baku Rp18.000 membuat pangkalan hampir tidak punya ruang untuk menutup biaya operasional harian yang membengkak,” tambahnya lagi.
Kondisi terhimpitnya pangkalan resmi ini diduga turut memicu suburnya harga tinggi di tingkat pengecer atau warung-warung kecil yang lepas dari pengawasan HET, di mana harga di tingkat konsumen akhir tak jarang melonjak hingga Rp22.000 sampai Rp25.000 per tabung.
Keluhan dari Pangkalan Faalya ini sejalan dengan dorongan dari Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) setempat yang telah mengajukan usulan penyesuaian HET ke pemerintah daerah agar diselaraskan dengan daerah tetangga seperti Kota Batam yang sudah menyesuaikan tarif.
Melalui peliputan ini, Pangkalan Faalya berharap Pemerintah Kota Tanjungpinang melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) segera merespons dengan melakukan kajian teknis yang objektif di lapangan.
Penyesuaian HET yang rasional dinilai menjadi solusi satu-satunya agar pangkalan resmi di area pemukiman tetap sehat secara bisnis dan distribusi gas subsidi ke masyarakat bawah tidak terganggu. (Red)
