KABAREKONOMI.CO.ID, TANJUNG PINANG – Tekanan akibat Harga Eceran Tertinggi (HET) gas LPG 3 kilogram bersubsidi yang mandek di angka Rp18.000 kini sangat dirasakan oleh pangkalan di area kompleks pemukiman padat penduduk.
Salah satunya diutarakan oleh pengelola Pangkalan Faalya yang beroperasi di Ruko Pinang Mas Residence, Jalan Raja Haji Fisabilillah Km. 8 Atas, Kota Tanjungpinang.
Berada di wilayah Kecamatan Tanjungpinang Timur—wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di Tanjungpinang—Pangkalan Faalya setiap minggunya harus melayani tingginya permintaan rumah tangga sasaran.
Namun, tingginya volume distribusi ini dinilai sudah tidak sebanding lagi dengan margin keuntungan yang didapat akibat regulasi tarif yang tidak pernah berubah dalam bertahun-tahun.
“Wilayah Km 8 Atas ini pertumbuhan penduduk dan perumahannya sangat cepat, otomatis permintaan gas melon sangat tinggi. Namun, melayani volume yang besar dengan margin keuntungan peninggalan regulasi lama itu jujur membuat operasional kami terasa sesak,” ungkap pengelola Pangkalan Faalya saat ditemui di lokasinya, Rabu (15/7/2026).
Pihak pangkalan membeberkan bahwa beban kerja saat ini jauh lebih kompleks dibanding beberapa tahun lalu.
Selain harus menguras tenaga menangani fisik tabung baja, pangkalan kini diwajibkan melakukan pencatatan digital menggunakan KTP atau KK konsumen lewat sistem Subsidi Tepat milik Pertamina.
Proses administrasi digital dan manajemen antrean warga ini membutuhkan waktu serta konsentrasi ekstra.
