KABAREKONOMI.CO.ID, JAKARTA – Tekanan inflasi kembali menghantui perekonomian nasional. Sejumlah ekonom memperkirakan laju inflasi Indonesia pada Mei 2026 mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya, didorong oleh melonjaknya harga berbagai komoditas pangan, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi, serta dampak pelemahan nilai tukar rupiah yang memicu imported inflation.
Proyeksi tersebut menjadi sinyal bahwa tantangan stabilitas harga masih membayangi ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global yang terus berlangsung.
Meski konsumsi domestik belum menunjukkan lonjakan signifikan, tekanan dari sisi pasokan dan faktor eksternal dinilai cukup kuat untuk mendorong inflasi ke level yang lebih tinggi.
Kepala Ekonom Maybank Indonesia, Juniman, memperkirakan inflasi pada Mei 2026 secara bulanan mencapai 0,36 persen month to month (mtm), meningkat dibandingkan inflasi April 2026 yang tercatat sebesar 0,13 persen mtm.
Sementara itu, inflasi tahunan diproyeksikan naik menjadi 3,17 persen year on year (yoy), lebih tinggi dibandingkan posisi April 2026 yang berada di level 2,42 persen yoy.
“Untuk inflasinya, kita perkirakan akan naik. Normalnya 0,36 persen, terutama dipicu oleh kenaikan harga bahan makanan,” ujar Juniman.
Menurutnya, tren kenaikan harga terjadi pada hampir seluruh kelompok bahan makanan setelah sebelumnya mengalami penurunan pasca-Lebaran. Beberapa komoditas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap kenaikan inflasi antara lain bawang merah, beras, dan minyak goreng.
Tidak hanya itu, sejumlah komoditas pangan lainnya juga mengalami peningkatan harga selama Mei 2026. Mulai dari gula pasir, daging sapi, daging ayam ras, cabai, bawang putih, paprika merah hingga bahan baku impor seperti gandum dan kedelai.
