Untuk memperluas akses pasar internasional, BI juga bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perdagangan.
“Terkait akses pasar juga ada kerja sama dengan Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perdagangan. Jadi kami manage semuanya, agar antara kebutuhan di luar sana dengan apa yang di sini dan kualitasnya kami siapkan,” jelas Agung.
Menurutnya, KKI tidak hanya diarahkan menjadi ajang pameran produk UMKM, tetapi harus menghasilkan kerja sama dan transaksi yang konkret.
“Ibaratnya, ini menjadi suatu kegiatan yang tidak hanya seremoni, tetapi harus konkret menghasilkan sesuatu untuk ekspor,” tegasnya.
KKI 2026 Terapkan Konsep Double Zero Emission
Selain memperkuat akses pembiayaan dan ekspor, KKI 2026 juga membawa konsep keberlanjutan melalui penerapan double zero untuk emisi.
Emisi nol pertama dilakukan dengan mengimbangi seluruh emisi yang dihasilkan selama penyelenggaraan KKI 2026 melalui penanaman pohon maupun pembelian carbon credit.
Sementara itu, emisi nol kedua dilakukan melalui pengolahan kembali sampah yang dihasilkan pengunjung selama pameran, baik sampah organik maupun nonorganik.
Dengan konsep tersebut, KKI 2026 tidak hanya menjadi ruang untuk mempertemukan UMKM dengan pembeli, investor, dan lembaga pembiayaan, tetapi juga mendorong penerapan prinsip ekonomi hijau dalam pengembangan UMKM.
Peningkatan jumlah peserta serta perluasan business matching diharapkan dapat semakin membuka peluang UMKM Indonesia untuk memperoleh pembiayaan, memperluas pasar, masuk ke rantai pasok, hingga menembus pasar ekspor.
SUMBER: BISNIS INDONESIA
