Kredit Perbankan dan Investasi Menguat, Ini Kondisi Terbaru Ekonomi Indonesia Oktober 2026

Likuiditas dan Kualitas Kredit Terjaga

Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh 8,22 persen yoy menjadi Rp10.492 triliun pada September 2026.

Bacaan Lainnya

Pertumbuhan DPK terutama ditopang giro yang meningkat 12,64 persen, diikuti tabungan sebesar 9,08 persen dan deposito 3,78 persen.

OJK juga mencatat kondisi likuiditas perbankan masih memadai. Rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) berada di level 105,7 persen, sedangkan rasio Alat Likuid terhadap DPK (AL/DPK) mencapai 24,1 persen.

Kedua indikator tersebut masih berada di atas ambang batas masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen.

Kualitas kredit juga relatif terjaga. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross tercatat sebesar 2,07 persen, sedangkan NPL net berada di level 0,82 persen.

Ketahanan permodalan perbankan turut menunjukkan kondisi kuat dengan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 24,30 persen.

Ekonomi Tumbuh 5,47 Persen, Pasar Modal Tertekan

Di tengah ketahanan sektor keuangan, perekonomian nasional juga masih menunjukkan pertumbuhan positif.
OJK mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan III 2026 tumbuh 5,47 persen yoy.

Seluruh lapangan usaha tercatat mengalami pertumbuhan positif.
Dari sisi produksi, aktivitas manufaktur menunjukkan penguatan. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 meningkat ke level 54, tertinggi sejak Maret 2024.
Neraca perdagangan juga tetap mencatatkan surplus.

Namun, dinamika berbeda terlihat di pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 5.057,05 pada akhir Oktober 2026 atau terkoreksi 16,70 persen secara bulanan. Secara year to date, IHSG mengalami penurunan 41,52 persen.

Tekanan pasar saham turut dipengaruhi ketidakpastian global, perubahan persepsi risiko investor, serta pengumuman MSCI terkait proposal konsultasi reklasifikasi status Indonesia.

Pos terkait