KURMA 2026 Jadi Etalase UMKM Kepri, Mendagri Puji Pusat Ekonomi Kreatif Dekranasda

Mendagri juga meninjau langsung aktivitas para perajin di lantai dasar Gedung Dekranasda, mulai dari proses menenun, produksi tudung manto, hingga pembuatan kerajinan dari limbah cangkang gonggong.

“Pak Mendagri melihat langsung para perajin yang sedang berproduksi, bahkan sempat berinteraksi dan membeli beberapa produk. Beliau juga membuat konten media sosial untuk mempromosikan produk-produk UMKM Kepri agar semakin dikenal luas,” ujar Riki.

Bacaan Lainnya

Dalam kesempatan tersebut, Mendagri bahkan ikut menyapa pelaku UMKM yang sedang melakukan penjualan melalui siaran langsung di platform TikTok. Melalui kegiatan live tersebut, sejumlah produk kerajinan khas Kepulauan Riau dipromosikan secara langsung kepada masyarakat luas.

Langkah tersebut dinilai menjadi bagian dari upaya memperluas akses pasar UMKM melalui pemanfaatan teknologi digital dan media sosial.

Selain produk kerajinan, Mendagri juga memberikan perhatian khusus terhadap inovasi layanan UMKM berbasis teknologi yang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.

Riki menjelaskan bahwa salah satu inovasi yang mendapat apresiasi adalah pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI) untuk membantu promosi produk UMKM.

“Provinsi Kepri melalui Dekranasda, didukung Dinas Koperasi UKM serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan, sudah mulai mengembangkan layanan UMKM berbasis artificial intelligence. Dalam simulasi yang ditampilkan, AI digunakan untuk membuat konten promosi produk UMKM dalam bentuk video yang menarik,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan promosi berbasis AI dinilai mampu meningkatkan daya tarik produk sekaligus mempengaruhi keputusan konsumen.

Selain inovasi digital, Mendagri juga mengapresiasi pengembangan produk kuliner khas Kepulauan Riau yang telah menggunakan teknologi pengemasan modern melalui metode sterilisasi canning.

Teknologi ini memungkinkan produk makanan dikemas dalam kaleng dengan masa simpan yang panjang, bahkan hingga lebih dari satu tahun.

Beberapa produk kuliner yang telah dikembangkan melalui teknologi tersebut antara lain ikan asam pedas, gulai ikan kari, sambal bilis tanak, ayam pecah, rendang jamur, rendang daging, ikan sarden, serta rendang tongkol.

“Delapan varian produk ini sudah memiliki izin edar dari Badan POM, sementara tiga produk lainnya masih dalam proses perizinan. Produk-produk ini juga sudah mulai menembus pasar ekspor,” kata Riki.

Ia menilai inovasi pengemasan tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara massal, terutama mengingat kekayaan sumber daya kelautan Kepulauan Riau yang melimpah.

Bahan baku utama untuk produksi kuliner tersebut dapat dipasok dari berbagai kabupaten dan kota di Kepri, sementara proses produksinya dapat dipusatkan di Batam sebagai salah satu pusat industri daerah.

“Jika dikembangkan secara serius, ini bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Kepulauan Riau. Rantai pasok bahan baku dari daerah lain juga akan ikut bergerak sehingga dampaknya terhadap perekonomian daerah akan semakin besar,” ujarnya.

Riki menegaskan bahwa apresiasi yang diberikan Mendagri menunjukkan bahwa upaya Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dalam menjaga stabilitas inflasi, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta memperkuat sektor UMKM mendapat perhatian positif dari pemerintah pusat.

“Ini menunjukkan bahwa keseriusan Pemerintah Provinsi Kepri dalam membangkitkan UMKM dan menjaga pertumbuhan ekonomi daerah mendapat pengakuan. Semua ini tentu tidak lepas dari kolaborasi antara pemerintah provinsi, kabupaten dan kota, serta seluruh pemangku kepentingan,” pungkasnya. (***)

Pos terkait