“Jangan sampai masyarakat memiliki beban keuangan yang tidak perlu. Salah satu kuncinya adalah bagaimana mengelola keuangan secara syariah,” jelasnya.
Penulis buku “Semua Bisa Kaya”, Marviarum Eka Ramdiati, memiliki pandangan yang cukup sederhana namun mendalam tentang makna kekayaan.
Menurutnya, kaya bukan selalu tentang jumlah uang atau aset yang dimiliki. Seseorang bisa disebut kaya ketika mampu merasa cukup dengan rezeki yang diterima serta mampu memanfaatkannya dengan cara yang benar.
“Rezeki tidak sepenuhnya untuk diri sendiri. Semua akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti,” ujarnya.
Perempuan lulusan jurusan Manajemen Universitas Indonesia tersebut mengatakan proses penulisan buku ini memakan waktu cukup panjang. Ia mencoba merangkum berbagai prinsip pengelolaan keuangan yang sederhana namun sering diabaikan banyak orang.
Dalam bukunya, ia membahas bagaimana cara memperoleh rezeki secara halal, mengatur pengeluaran dengan disiplin, serta pentingnya berbagi melalui infak, sedekah, hingga aqiqah.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut sebenarnya sudah lama diajarkan dalam ajaran Islam. “Semua itu diatur dalam Al-Quran,” katanya.
Marviarum juga menekankan pentingnya mengatur pembagian uang sejak awal menerima gaji. Banyak orang, menurutnya, baru menabung dari sisa pengeluaran, padahal seharusnya menabung menjadi prioritas sejak awal.
Ia juga menyarankan masyarakat untuk memisahkan rekening penerimaan dengan rekening belanja agar pengelolaan keuangan menjadi lebih terkontrol.
Sebagaimana diketahui, kegiatan bedah buku tersebut merupakan bagian dari rangkaian Kepulauan Riau Ramadhan Fair (Kurma) 2026 yang berlangsung pada 2–8 Maret 2026 di One Batam Mall.
Acara ini secara resmi dibuka oleh Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Haris Pratamura, dan kini memasuki tahun ketiga penyelenggaraan. Kurma tidak hanya menghadirkan bazar Ramadan atau ruang promosi produk UMKM. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi ruang edukasi ekonomi bagi masyarakat.
Semenatara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kepulauan Riau, Rony Widijarto, mengatakan Kurma menjadi momentum penting untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah di daerah.
Menurutnya, perekonomian Kepulauan Riau saat ini menunjukkan performa yang cukup kuat dengan pertumbuhan mencapai 7,8 persen, salah satu yang tertinggi secara nasional.
“Kepri tidak mudah, banyak tantangan. Tapi kita mampu tumbuh tinggi. Pertumbuhan ini harus makin merata dan berkelanjutan,” ujarnya.
Melalui Kurma 2026, Bank Indonesia Kepri juga mendorong penguatan ekosistem produk halal. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di sektor makanan olahan dan wastra, didorong untuk memperoleh sertifikasi halal agar produk mereka memiliki daya saing yang lebih luas.
Selain itu, BI Kepri juga mendorong keberadaan juru sembelih halal (juleha) bagi pelaku usaha makanan agar proses produksi memenuhi standar halal secara menyeluruh.
Tidak hanya pada sisi produksi, penguatan ekonomi syariah juga dilakukan melalui digitalisasi sistem pembayaran.
Sepanjang 2025, transaksi menggunakan QRIS di Kepulauan Riau tercatat mencapai Rp11,5 triliun. Angka ini menunjukkan semakin meningkatnya adopsi pembayaran digital di tengah masyarakat.
Pada 2026, Bank Indonesia menargetkan perluasan program digitalisasi dengan “meng-QRIS-kan” pasar tradisional di berbagai wilayah Kepulauan Riau. Program ini melanjutkan implementasi QRIS di sejumlah masjid yang telah dilakukan sebelumnya.
Bagi Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Kurma bukan sekadar agenda tahunan selama Ramadan. Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Haris Pratamura, menegaskan kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi daerah sekaligus memberdayakan UMKM.
“UMKM harus semakin tangguh. Mari kita perkuat ketahanan ekonomi Kepri agar semakin makmur dan merata,” ujarnya.
Di tengah suasana Ramadan yang identik dengan berbagi dan refleksi diri, diskusi tentang buku “Semua Bisa Kaya” seolah mengingatkan kembali bahwa kekayaan tidak hanya tentang seberapa banyak yang dimiliki, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mengelola rezeki, berbagi dengan sesama, dan merasa cukup atas apa yang diberikan.
Kalau Anda mau, saya juga bisa ubah lagi menjadi feature yang lebih “majalah style” (lebih bercerita, opening lebih kuat, dan lebih naratif) yang biasanya dipakai media untuk rubrik Ramadan atau ekonomi inspiratif. (Iman Suryanto)
