“Pertanyaan kritisnya, dari mana bahasa Melayu itu berasal? Jejaknya banyak dan teorinya juga banyak. Tetapi yang paling jelas dan ada buktinya adalah Raja Ali Haji, dengan Gurindam Dua Belas, yang pusatnya berada di Pulau Penyengat ini,” tutur Tito.
Raja Ali Haji dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan bahasa dan sastra Melayu. Karya-karyanya menjadi bagian dari warisan intelektual yang melekat kuat dengan sejarah Pulau Penyengat.
Karena itu, Tito mengapresiasi Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau yang membangun Monumen dan Museum Tugu Bahasa di kawasan tersebut.
Ia menilai keberadaan museum dan monumen nantinya tidak hanya menjadi penanda sejarah, tetapi juga dapat menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat, terutama generasi muda.
“Ini bisa menjadi bukti fisik dan bahan pelajaran bagi rakyat Indonesia, khususnya generasi muda, sekaligus menjadi penghargaan kepada Raja Ali Haji,” katanya.
Berpotensi Jadi Wisata Sejarah dan Budaya
Tito berharap museum tersebut tidak hanya memperkenalkan sejarah bahasa Melayu kepada masyarakat Indonesia, tetapi juga dapat menjadi ruang yang mempertemukan sejarah bahasa Melayu dengan masyarakat di negara-negara serumpun, seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.
Ia juga menyebut Gubernur Kepri Ansar Ahmad telah menyampaikan rencana pengembangan museum yang akan mengangkat sejarah dan perjalanan bahasa Melayu hingga menjadi bagian penting dari identitas bangsa Indonesia.
Dengan konsep tersebut, Tito melihat Pulau Penyengat memiliki peluang untuk semakin berkembang sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya.
“Dalam perjalanan ke sini tadi, Gubernur Ansar sudah membicarakan bahwa museum ini akan berisi sejarah dan ceritanya. Saya yakin ini akan menjadi objek wisata yang menarik dan akan terus dikembangkan,” ujarnya.
Tito juga berpesan agar pembangunan dan keberadaan Monumen dan Museum Tugu Bahasa dijaga secara berkelanjutan.
Ia berharap program tersebut tetap dilanjutkan oleh pemerintahan Kepulauan Riau di masa mendatang sehingga nilai sejarah Pulau Penyengat dan perjalanan bahasa persatuan Indonesia dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Siapa pun yang menjabat nantinya, saya harap bisa meneruskan, sehingga betul-betul menjadi bukti nyata bahwa bahasa pemersatu bangsa Indonesia berawal dari Pulau Penyengat,” tutupnya. (Iman)
