Sebagaimana diketahui, pengembangan kawasan industri di Galang merupakan bagian dari upaya mendorong hilirisasi sumber daya alam dan memperkuat industri teknologi tinggi di Indonesia.
Saat dijumpai awak media, Fary menyebut proyek tersebut melibatkan konsorsium yang terdiri atas empat perusahaan, yakni Tynergy, Quantum, Essence Global, dan Energitech. Konsorsium tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan industri semikonduktor dan hilirisasi pasir silika.
Fary menjelaskan, pengembangan kawasan industri ini memiliki skala yang besar karena tidak hanya mencakup pembangunan fasilitas produksi, tetapi juga membutuhkan dukungan infrastruktur energi, air, dan fasilitas penunjang lainnya.
“Ini merupakan bagian dari program pemerintah Indonesia untuk hilirisasi. Tindak lanjut realisasinya sekarang dilakukan melalui tahapan pengembangan dan koordinasi bersama,” katanya.
Ia juga mengaitkan pengembangan tersebut dengan kesepakatan investasi yang sebelumnya ditandatangani di Washington DC dan disaksikan Presiden Republik Indonesia. Tahap berikutnya adalah mendorong realisasi komitmen tersebut melalui persiapan teknis dan pengembangan kawasan.
Sebagai pembanding, Fary menyebut investasi pada proyek yang sedang berjalan di kawasan Wiraraja sebelumnya diperkirakan mencapai sekitar 500 juta dolar AS atau setara Rp9,7 triliun. Namun, nilai investasi khusus untuk pengembangan kawasan di Galang memiliki cakupan tersendiri dan perlu dilihat berdasarkan tahapan serta keseluruhan rencana konsorsium.
Pengembangan kawasan industri Wiraraja di Galang direncanakan berlangsung secara bertahap. Pada tahap awal, pengembangan diprioritaskan pada lahan seluas 150 hektare sebelum dilanjutkan ke tahap berikutnya.
