Musim Hujan Datang Lebih Lambat, Industri Data Center Waspadai Krisis Air

Ketersediaan Air Jadi Perhatian

Risiko lainnya adalah ketersediaan air. Data center yang menggunakan evaporative cooling atau cooling tower akan semakin bergantung pada ketersediaan air ketika periode kering berlangsung lebih lama.

Hendra mengatakan penilaian risiko air tidak cukup hanya menghitung jumlah air yang digunakan data center. Operator juga perlu memperhatikan ketersediaan air di wilayah tersebut, kompetisi dengan kebutuhan masyarakat, sumber air alternatif, serta peluang penggunaan recycled atau reclaimed water.

Bacaan Lainnya

“Inilah mengapa IDPRO berpandangan bahwa ukuran efisiensi data center ke depan sebaiknya tidak hanya melihat PUE, tetapi juga WUE atau Water Usage Effectiveness,” katanya.

Kebutuhan investasi pada sistem pendinginan juga tidak hanya didorong perubahan cuaca. Perkembangan AI dan high-density computing turut mengubah profil panas data center.

Hendra mengatakan kebutuhan rack dengan kepadatan jauh lebih tinggi dibandingkan traditional enterprise computing mendorong penggunaan direct-to-chip liquid cooling, rear-door heat exchanger, hybrid cooling, serta teknologi advanced thermal management lainnya.

“Jadi investasi cooling ke depan bukan hanya untuk mengatasi cuaca panas, tetapi juga untuk menangani jumlah panas yang jauh lebih tinggi pada area yang jauh lebih kecil,” ujarnya.

Operator juga mulai memanfaatkan AI untuk monitoring, predictive maintenance, dynamic cooling optimization, serta pengelolaan PUE dan WUE secara real time.

Menurut Hendra, kondisi tersebut membuat desain data center ke depan perlu mempertimbangkan kondisi iklim masa depan, bukan hanya data historis.

“Bagi IDPRO, arah industrinya cukup jelas: data center masa depan harus bukan hanya reliable, tetapi juga climate-resilient, energy-efficient dan water-efficient,” tutur Hendra.

Kapasitas Data Center Indonesia Terus Bertambah

Ketua Industri AI, IoT & Big Data Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Teguh Prasetya mengatakan pola cuaca kini perlu menjadi parameter dalam perencanaan dan manajemen risiko data center.

Menurutnya, dampaknya dapat semakin terukur seiring kapasitas infrastruktur data center Indonesia yang terus bertambah.

“Signifikan, dan kini sudah terukur, bukan lagi asumsi,” kata Teguh saat dihubungi Bisnis, Rabu (23/9/2026).

Teguh menyebut kapasitas data center terpasang di Indonesia mencapai 1.717 megawatt (MW) pada 2026 dan diproyeksikan meningkat menjadi 4.145 MW pada 2031.

Jakarta menampung sekitar 56,72% kapasitas nasional, sehingga konsentrasi aset membuat faktor lokasi menjadi penting dalam pengelolaan risiko.

Dia juga menyebut PUE rata-rata tertimbang global tercatat 1,54 pada 2025. Dengan basis 1.717 MW IT, Teguh menghitung kenaikan PUE sebesar 0,1 akibat cuaca panas secara ilustratif dapat menambah beban sekitar 170 MW.

Pos terkait