Ia menambahkan, ketegangan geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, turut mempengaruhi stabilitas energi dan rantai pasok dunia yang berpotensi berdampak pada perekonomian global apabila berlangsung dalam waktu yang lama.
Bagi Kepulauan Riau, kondisi tersebut terasa langsung terutama pada sektor manufaktur yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah, khususnya di Batam dan Bintan. Volatilitas permintaan ekspor dari Amerika Serikat, Eropa, dan Tiongkok membuat dunia usaha semakin selektif dalam melakukan investasi di kawasan perdagangan bebas Batam-Bintan-Karimun.
Di sisi lain, ancaman perubahan iklim juga meningkatkan kerentanan wilayah pesisir, seperti abrasi pantai, cuaca ekstrem, hingga potensi banjir rob yang memerlukan langkah pembangunan yang tangguh terhadap perubahan iklim.
Meski demikian, Nyanyang menyampaikan bahwa berbagai indikator pembangunan di Kepri menunjukkan tren positif. Pada Triwulan IV Tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Kepri tercatat sebesar 6,94 persen secara year on year, tertinggi di Sumatera dan peringkat ketiga secara nasional.
Selain itu, PDRB per kapita juga mengalami peningkatan dari Rp123,46 juta pada tahun 2020 menjadi Rp161,42 juta pada tahun 2024. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kepri pada tahun 2025 mencapai 80,53 dan telah masuk kategori sangat tinggi serta menempati peringkat ketiga nasional. Tingkat kemiskinan juga berhasil ditekan hingga 4,26 persen, termasuk yang terendah di Indonesia.
Namun demikian, Nyanyang mengingatkan bahwa masih terdapat sejumlah isu strategis yang perlu mendapat perhatian bersama, di antaranya peningkatan kualitas pembangunan manusia, optimalisasi potensi maritim, penanganan kemiskinan dan pengangguran, peningkatan kualitas pelayanan publik, pemajuan budaya Melayu, serta pembangunan infrastruktur wilayah yang lebih merata dan terintegrasi.
“Dengan terus mengedepankan kolaborasi yang berkualitas, berbagai tantangan pembangunan tersebut insyaallah dapat kita selesaikan bersama,” pungkasnya.
