KABAREKONOMI.CO.ID, BINTAN – Hampir dua bulan berlalu, MV CARENS masih terjebak di perairan Kijang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.
Kapal kargo yang dilaporkan kandas sejak 17 Juli 2026 itu diketahui membawa muatan alumina hasil smelter Indonesia dengan tujuan Rusia. Namun hingga kini, kapal dan muatannya belum juga dapat melanjutkan perjalanan.
Lamanya penanganan ini mulai memunculkan pertanyaan serius: sampai kapan MV CARENS akan dibiarkan berada di lokasi?
Persoalannya bukan sekadar kapal yang belum bisa berlayar. Di balik kapal yang kandas tersebut terdapat muatan ekspor, biaya logistik yang terus berjalan, kepentingan pemilik kapal dan barang, perusahaan asuransi, hingga reputasi Indonesia di mata pelaku perdagangan internasional.
Akademisi sekaligus pengamat kebijakan publik, Direktur Eksekutif Batam Labor and Public Policy (BALAPI) Rikson Tampubolon, menilai kasus MV CARENS harus menjadi alarm bagi pemerintah dan otoritas maritim.
Menurutnya, kejadian kapal kandas di kawasan Bintan-Kijang bukan fenomena baru.
“Ini seperti atap rumah yang bocor di tempat yang sama, diperbaiki sementara, lalu bocor lagi di musim hujan berikutnya. Kita selalu kaget, padahal polanya sudah terlihat jelas,” kata Rikson saat menjawab pertanyaan KE Group pada Selasa (15/9/2026).
Ia mengingatkan, sebelumnya telah terjadi sejumlah insiden serupa di perairan Bintan dan Kijang. Pada Maret 2024, KM Alpha Romeo 3 dilaporkan tenggelam dan kandas di Perairan Tokojo, Kijang. Kemudian pada Desember 2025, NEWSUN HARMONY kandas dan mengalami kebocoran di Perairan Mapur, Bintan, saat mengangkut alumina dari PT Bintan Alumina Indonesia menuju Busan, Korea Selatan.
“Pola ini bukan kebetulan. Ini menunjukkan perairan Kijang dan sekitarnya memiliki karakteristik navigasi yang menantang, sementara kapasitas respons kita tidak pernah benar-benar berubah,” ujarnya.
