“Pertumbuhan ekonomi tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi pemerintah, pengelola kawasan, dan pelaku usaha menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” jelasnya.
Anggota/Deputi Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto, menambahkan bahwa revitalisasi Jalan Raya Nagoya merupakan bagian dari agenda besar pembangunan New Nagoya dalam kerangka WPP Prioritas. Penataan tersebut meliputi peningkatan kualitas jalan, pedestrian, tata pencahayaan, konektivitas antarblok komersial, hingga integrasi fungsi perdagangan dan hiburan.
“WPP Prioritas New Nagoya dirancang untuk mentransformasi kawasan ini menjadi pusat perdagangan dan gaya hidup yang modern, terintegrasi, dan berdaya saing internasional,” ujarnya.
Ia menegaskan, keberhasilan festival ini menjadi bukti bahwa ketika infrastruktur, ruang publik, dan aktivitas ekonomi dikolaborasikan, dampaknya langsung terasa dalam bentuk perputaran ekonomi yang nyata.
Owner Nagoya Citywalk, Suhendro, menyatakan kesiapan pihak swasta untuk menjadi mitra strategis dalam mendukung implementasi WPP tersebut. Menurutnya, tingginya antusiasme masyarakat selama festival menunjukkan potensi besar Nagoya sebagai pusat aktivitas ekonomi dan pariwisata.
“Kami melihat antusiasme masyarakat sangat tinggi. Ini menunjukkan bahwa Nagoya memiliki potensi besar sebagai pusat aktivitas ekonomi dan pariwisata. Kami siap berkolaborasi untuk pengembangan jangka panjang kawasan,” ungkapnya.
Night Party Nagoya Lantern Festival bukan sekadar perayaan Tahun Baru Imlek 2577, tetapi juga bagian dari strategi aktivasi ruang publik berbasis kawasan. Festival ini menghadirkan instalasi lampion tematik, atraksi barongsai dan lion dance, fashion show spesial Imlek, serta bazaar UMKM yang melibatkan 30 tenant dalam radius sekitar 200 meter.
Selama lima hari penyelenggaraan, hampir seluruh tenant mencatatkan penjualan habis setiap malam. Pada puncak acara, 16 Februari 2026, tercatat 1.584 pengunjung masuk melalui gerbang utama dengan estimasi total kunjungan mencapai sekitar 2.500 orang per malam.
Menariknya, pengunjung tidak hanya berasal dari Batam dan wilayah sekitar, tetapi juga wisatawan mancanegara dari Singapura, Malaysia, Brunei, dan sejumlah negara lainnya. Hal ini menunjukkan potensi kawasan Nagoya sebagai magnet wisata belanja dan hiburan regional.
Lonjakan kunjungan tersebut sekaligus menjadi sinyal pemulihan ekonomi kawasan Nagoya yang sempat mengalami perlambatan pascapandemi Covid-19. Kebangkitan ini menjadi simbol transformasi Batam menuju kota perdagangan, jasa, dan investasi yang semakin kompetitif di tingkat regional. (**)
